Citra Satelit Ungkap Bencana Pergerakan Tanah di Rongga KBB Diprediksi Terjadi, Begini Penjelasan Ahli

Bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ternyata sudah diprediksi terjadi sebelumnya.

Citra Satelit Ungkap Bencana Pergerakan Tanah di Rongga KBB Diprediksi Terjadi, Begini Penjelasan Ahli

INILAHKORAN, Ngamprah - Bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ternyata sudah diprediksi terjadi sebelumnya.

Fakta tersebut diungkap Dr. Ir. Vera Sadarviana, M.T. dari kelompok keahlian Sains Rekayasa dan Inovasi Geodesi dari kajian yang dilakukan secara geometri  berdasarkan perspektif keilmuan geodesi.

"Citra satelit yang diambil di wilayah tersebut pada tahun 2020 menunjukkan kemungkinan bencana ini akan terjadi," ungkapnya dikutip dari laman itb.ac.id, Selasa 19 Maret 2024.

Vera menjelaskan, data citra satelit yang diambil pada tahun 2020 menunjukkan morfologi menyerupai gundukan di bagian kaki longsoran. 

"Perubahan elevasi yang membentuk gundukan ini mencirikan indikasi proses terjadinya longsoran, yang biasanya dibarengi oleh adanya indikasi penurunan elevasi di bagian kepala longsoran,” jelasnya.

Sementara itu, Ahli longsoran (landslide) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T., menambahkan, terdapat juga area terbuka yang tidak tertutup oleh vegetasi di bagian puncak bukit yang dapat menjadi perhatian. 

“Fenomena tersebut juga dapat dipelajari lebih lanjut karena vegetasi dapat memainkan peran penting dalam proses infiltrasi air hujan (fungsi hidrologis),” terangnya.

Imam menuturkan, pergerakan tanah atau longsoran merupakan fenomena yang bersifat global atau dapat dijumpai di berbagai belahan dunia dan umumnya memiliki ciri unik untuk setiap tempat kejadiannya.

"Tidak ada obat generik untuk mitigasi bahaya longsoran sehingga untuk mengetahui kemungkinan terjadinya longsoran di suatu wilayah tertentu, perlu dilakukan kajian secara seksama terkait faktor-faktor penyebabnya," tuturnya.

Biasanya, sebut Imam, diawali dengan melakukan zonasi potensi terjadinya longsoran (landslide susceptibility) berdasarkan penilaian berbagai faktor-faktor penyebabnya.

"Kemudian dilakukan kajian terkait tingkat kestabilan lereng berdasarkan nilai faktor keamanannya (safety factor)," sebutnya.

Dengan mempertimbangkan geometri lereng, sambung Imam, kekuatan geser material pembentuk lereng, serta gaya-gaya lain yang ada dalam sistem lereng bisa menentukan apakah lereng tersebut stabil atau tidak.

"Sehingga, penting bagi masyarakat untuk bisa memahami gejala-gejala alam yang ada, mengingat masih adanya potensi terjadinya longsoran susulan dan bahaya ikutan lainnya berupa tertutupnya aliran Sungai Cidadap yang dapat meluap dan menyebabkan banjir di sekitar bantaran sungai tersebut," tandasnya.

Sebelumnya, Fakta baru bencana pergerakan tanah di Kampung Cigombong Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diungkap Ahli longsoran (landslide) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T.

Menurutnya, bencana alam pergerakan tanah yang terjadi sejak 19 Februari 2024 di wilayah selatan Bandung Barat itu dapat memicu bahaya ikutan atau  collateral hazard berupa meluapnya Sungai Cidadap akibat terbendungnya aliran sungai tersebut oleh pergerakan tanah susulan.*** (agus satia negara)


Editor : JakaPermana