Dari Ciliwung Tumbuh Harapan Generasi Baru

SUNGAI yang bersih tidak lahir dari satu aksi, melainkan dari kepedulian yang terus mengalir. Di Bogor, semangat itu mulai ditanamkan kepada generasi muda.

Dari Ciliwung Tumbuh Harapan Generasi Baru
BEBERSIH SUNGAI: Aksi bebersih Sungai Ciliwung di Kampung Bebek Saung Alkesa, Kelurahan Kedunghalang, Kecamatan Bogor Utara, Sabtu (18/7). Gerakan ini merupakan buah dari kolaborasi lintas sektor melalui serangkaian rapat koordinasi.

Pagi itu, tepian Sungai Ciliwung di Kampung Bebek, Kelurahan Kedunghalang, tak hanya dipenuhi suara aliran air.

Ratusan kantong sampah terbuka, sarung tangan dikenakan, dan para remaja berbaris menyusuri bantaran sungai.

Mereka datang bukan untuk berwisata, melainkan memungut sampah yang selama ini mengendap di aliran Ciliwung.

Di bawah terik matahari musim kemarau, siswa SMP, SMA, komunitas lingkungan, hingga para pesepeda bergotong royong membersihkan sungai dalam aksi bebersih yang digelar Pemerintah Kota Bogor, Sabtu (18/7). 

Bagi sebagian orang, kegiatan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun bagi Pemerintah Kota Bogor, aksi tersebut diharapkan menjadi awal tumbuhnya kepedulian yang bertahan jauh lebih lama.

Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengatakan, kegiatan bersih-bersih Sungai Ciliwung menjadi bagian dari peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang tahun ini sengaja dikemas bukan sekadar seremoni.

"Melalui implementasi sembilan klaster kegiatan yang bergerak simultan, aksi nyata bebersih Sungai Ciliwung ini sangat tepat karena momentumnya berdekatan dengan peringatan Hari Sungai Nasional," ujarnya.

Di lokasi itu, peserta tidak hanya membersihkan sungai. Berbagai layanan sosial dan kesehatan masyarakat juga dihadirkan melalui program 9 Klaster Peduli yang digagas Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bogor.

Musim kemarau justru memperlihatkan persoalan yang selama ini tersembunyi. Debit air Ciliwung yang menurun membuat tumpukan sampah terlihat jelas di sejumlah titik. 

Plastik, ranting, hingga limbah rumah tangga mengendap di tepian sungai, menjadi pengingat bahwa persoalan sampah belum selesai. Menurut Jenal, kondisi itu tidak mungkin diatasi hanya dengan satu kali aksi bersih-bersih.

Dia menilai, menjaga sungai membutuhkan gerakan yang terus hidup dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

Karena itulah pelajar, Generasi Berencana (Genre), komunitas lingkungan, hingga komunitas pesepeda diajak turun langsung ke lapangan. Harapannya sederhana, rasa memiliki terhadap sungai tumbuh sejak usia muda.

Selain mengajak masyarakat tidak membuang sampah ke sungai, Pemkot Bogor juga mendorong penyelesaian jangka panjang melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Galuga yang direncanakan mulai dibangun pada awal Agustus mendatang.

Sementara itu, Kepala DPPKB Kota Bogor, Marse Hendra Saputra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi 14 instansi dan 21 mitra strategis.

Tak hanya fokus pada lingkungan, rangkaian Harganas juga menyentuh berbagai aspek kesejahteraan keluarga, mulai dari pemenuhan gizi, perbaikan rumah tidak layak huni, pemberdayaan UMKM, hingga program Ayah Teladan. (rizki mauludi/gin)


Editor : Inilahkoran