Dedi Mulyadi Sebut, Prilaku Konsumtif Masyarakat Jadi Sebab Merebaknya Bank Emok di Jabar

Gubernur Dedi Mulyadi menyebut, ada dua variabel yang menyebabkan merebaknya bank emok, pinjaman online dan sejenisnya di Jawa Barat.

Dedi Mulyadi Sebut, Prilaku Konsumtif Masyarakat Jadi Sebab Merebaknya Bank Emok di Jabar

INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Dedi Mulyadi menyebut, ada dua variabel yang menyebabkan merebaknya bank emok, pinjaman online dan sejenisnya di Jawa Barat.

Pertama kata Dedi, tumbuh pesatnya bank emok di Jabar, karena mereka bisa memberikan pinjaman dengan syarat yang mudah, sehingga masyarakat merasa terbantu.

"Sebenarnya ada dua variable. Saya paham betul itu. Yang pertama memang membantu. Yang kedua sikap konsumtif. Ini yang saya pahami ya. Sikap konsumtif," ungkap Dedi, dikutip Kamis 24 Juli 2025.

Prilaku konsumtif atau gaya hidup ini, menyebabkan bank emok mudah menyebar. Khususnya di kalangan ibu rumah tangga yang minim aktivitas, dimana akhirnya menjadi kaki tangan bank emok.

"Jadi kebanyakan ibu-ibu yang suka minjam itu ibu-ibu yang suka ngerumpi. Nah, di setiap RT itu ada komunitasnya itu. Di setiap RT itu ada 11 anggota. Nah, 11 anggota ada koordinator. Nah, koordinatornya ini yang muter gitu ya, kayak arisan. Nah, sikap konsumtif ini harus segera diturunkan," ucapnya.

Sebab lanjut dia, di luar masalah prilaku konsumtif, negara sudah berupaya hadir membantu, mulai dari kesehatan, pendidikan hingga permodalan untuk usaha.

"Kalau misalnya pertolongannya (butuh uang) apa yang ingin Jawa Barat (pemerintah bantu) kepepet? Satu, sakit kita jamin kesehatannya. Dua, sekolah kita jamin pendidikannya. Apalagi? Nah, sekarang modal? (usaha), kita siapin. Nah, kalau tiga variable ini negara sudah hadir, masih ada masyarakat yang seperti itu, berarti memang problemnya ada di individu," kata Dedi.

Bahkan sampai santunan bila terjadi musibah pun ungkap Dedi, turut dipersiapkan Pemprov Jabar melalui Bank bjb.

"Selain itu juga kan kita lewat Bank Jabar Peduli, hampir setiap hari tuh (disalurkan). Yang meninggal lagi (kerja) kuli bangunan (diberikan santunan) Rp20 juta. Rumah sakitnya diberesin (biayanya dibayarkan), anaknya langsung masuk program pendidikan, free dari pemerintah. Hari ini kan begitu terus yang berjalan," ucapnya.

Sehingga kata Dedi, bila sampai hari ini bank emok terus tumbuh, tidak lain sebabnya karena prilaku konsumtif masyarakat itu sendiri.

"Tinggal kalau sudah (berjalan) seperti ini terus, juga sikap mental harus dibangun. Diantaranya sikap mentalnya itu adalah terbiasa hajatan, tapi tidak punya uang. Anaknya belum kerja, kemudian mau kawinan, ibunya pinjem bank emok. Rp15 juta, Rp20 juta. Jadi sudah saya baca, secara statistik (mayoritas) yang minjem itu secara umum (untuk kepentingan) konsumtif," ungkapnya.

Akhirnya, masyarakat mulai cari pinjaman lain, untuk menutupi hutang atau pinjaman sebelumnya. Sebab itu, solusi terdekat adalah dengan menutup aktivitas bank emok, maupun bank gelap berkedok koperasi, supaya prilaku konsumtif ini bisa terhenti.

"Makanya susah bayar. Lingkaran setan terus. Makanya udah, tutup aja banknya. Nanti juga sifat konsumtifnya hilang, karena yang minjeminnya nggak ada. Nah, kalau yang produktif, kita siapin, yang legal," tandasnya. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti