Dedi Mulyadi Segera Terbitkan Pergub Peningkatan Kesejahteraan Pekerja Perempuan di Jabar 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku akan segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub), yang mengatur tentang kesejahteraan perempuan. 

Dedi Mulyadi Segera Terbitkan Pergub Peningkatan Kesejahteraan Pekerja Perempuan di Jabar 
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku akan segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub), yang mengatur tentang kesejahteraan perempuan. 

INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku akan segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub), yang mengatur tentang kesejahteraan perempuan. 

Dedi mengatakan, Pergub tersebut penting untuk melindungi pekerja perempuan, terutama yang bekerja di sektor garmen. Sebab, sejumlah masalah yang perlu diatur dalam Pergub seperti soal makan dan menstruasi akan diatur.

Perempuan yang bekerja di pabrik kata dia, belum mendapat makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizinya, sehingga banyak pekerjaan perempuan yang memilih membeli makan di kantin. 

“Nutrisinya, gizinya, proteinnya, kemudian air mineralnya (harus dipenuhi). Sehingga daya tahan kesehatan mereka, terutama mereka menyusui,” ujar Dedi di Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2025.

Nantinya lanjut dia, Pemprov Jabar bakal membangun kantin-kantin untuk karyawan untuk guna memastikan kebutuhan asupan makanan mereka terjaga.

“Agar kantinnya bersih, tertata, higienis,” ucapnya.

Selain itu, Dedi juga menyoroti bahwa karyawan perempuan di pabrik berpotensi terserang kanker serviks, karena waktu kerja yang padat membuat mereka telat mengganti celana dalam hingga pembalut.

“Mereka seringkali telat ganti pembalut. Kemudian celana dalam. Kemudian apa yang terjadi? Ancaman kanker servik sangat tinggi,” kata Dedi.

“Nah, ini yang menjadi bahan perhatian saya. Saya mau buat Pergub nanti tentang itu. Agar perempuan di Jawa Barat terlindungi ketika bekerja,” imbuhnya.

Pergub ini menjadi penting untuk melindungi para pekerja perempuan agar tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit saat bekerja. 

“Kenapa? Ketika sakit, mereka berhenti. Ketika sudah berhenti mereka tidak punya uang, harus berobat. Ini problem,” pungkasnya. ***


Editor : JakaPermana