Dedi Mulyadi Soroti Pelanggaran Tata Ruang di Sekitar Gedung Sate dan Pakuan

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti keberadaan sejumlah bangunan yang dinilai melanggar ketentuan tata ruang di sekitar Gedung Sate dan Pakuan.

Dedi Mulyadi Soroti Pelanggaran Tata Ruang di Sekitar Gedung Sate dan Pakuan
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti keberadaan sejumlah bangunan yang dinilai melanggar ketentuan tata ruang di sekitar Gedung Sate dan Pakuan./INILAHKORAN-Yuliantono

INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyoroti keberadaan sejumlah bangunan yang dinilai melanggar ketentuan tata ruang, terutama yang berdiri lebih tinggi di sekitar Gedung Pakuan dan Gedung Sate, Kota Bandung.

Menurut Dedi, persoalan tersebut bukan hal baru, namun selama ini luput dari perhatian serius. Ia menilai keberadaan bangunan-bangunan tersebut seharusnya tidak diperbolehkan, jika mengacu pada prinsip penataan kawasan cagar budaya dan ikon pemerintahan.

"Yang tinggi di depan Gedung Pakuan juga melanggar," ujar Dedi di Kota Bandung, Rabu (6/5/2026).

Ia juga menyinggung kondisi di sekitar Gedung Sate, yang kini dipenuhi bangunan baru. Padahal, menurutnya, secara aturan kawasan tersebut semestinya tidak dipadati pembangunan.

"Kemudian ada bangunan-bangunan di sekitar Gedung Sate yang baru itu kalau mau jujur-jujuran, itu sebenarnya enggak boleh. Gitu loh, enggak boleh. Nah, ternyata kan faktanya, kita jujur lah, di sekitar Gedung Sate banyak bangunan," katanya.

Dedi mempertanyakan mengapa kondisi tersebut sebelumnya tidak menjadi persoalan besar, sementara saat ini Pemprov Jabar justru melakukan penataan dengan menertibkan bangunan di kawasan Gedung Sate.

"Nah, kenapa ketika di sekitar Gedung Sate banyak bangunan, Gedung Sate tidak menjadi gedung tunggal, tapi banyak gedung baru, kok dulu tidak menjadi masalah besar," ujarnya.

Sebagai bagian dari penataan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana menghilangkan bangunan di halaman Gedung Sate untuk membuka pandangan publik terhadap bangunan ikonik tersebut.

"Hari ini justru Pemprov Jabar menghilangkan bangunan-bangunan yang di halaman Gedung Sate. Kan bangunannya nanti dihilangkan agar pandangan orang ke Gedung Sate terbuka. Yang ada hanya halaman saja," jelasnya.

Dedi menambahkan, kawasan tersebut ke depan akan diintegrasikan dengan Lapangan Gasibu tanpa mengganggu fungsi lalu lintas, karena sistem jalan telah dirancang melingkar.

"Cuman halamannya terintegrasi antara Gasibu dengan halaman Gedung Sate. Dan tidak menghilangkan fungsi jalan karena jalannya kan sudah dibuat melingkar," katanya.

Ia memastikan rencana tersebut tidak akan memicu kemacetan. Bahkan, Pemprov Jabar tengah menyiapkan integrasi lanjutan antara kawasan Monumen Perjuangan dan Gasibu.

"Kan tidak akan menimbulkan kemacetan. Bahkan kita berpikir untuk mengintegrasikan antara Monju dengan Gasibu," ujarnya.

Menurut Dedi, rencana besar tersebut akan terealisasi seiring pembangunan tol dalam kota Bandung, termasuk pembangunan underpass sebagai penunjang konektivitas kawasan.

"Nah, nanti terwujud kapan? Ketika tol dalam Kota Bandung terbangun karena nanti ada underpass," katanya.

Ia optimistis, langkah penataan ini akan membawa perubahan signifikan bagi wajah Kota Bandung menjadi lebih tertata, bersih, dan indah.

"Jadi itu yang mesti dilakukan dan itu akan membuat Bandung nanti jauh lebih tertata, terkelola, rapi dan indah. Dan sekarang Bandung sudah mulai rapi, bersih," tandasnya. ***


Editor : JakaPermana