Diduga jadi Pemicu Banjir, Pemdes Giriasih Akui Belum Terima Perizinan Proyek Pembangunan ini

Sejumlah pembangunan di Desa Giriasih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diduga menjadi salah satu faktor pemicu banjir yang menerjang permukiman warga Kampung Cibeber Hilir RW02 dan 03 pada Jumat 11 April 2025.

Diduga jadi Pemicu Banjir, Pemdes Giriasih Akui Belum Terima Perizinan Proyek Pembangunan ini
"Untuk pembangunan pemakaman DT Memorial Park belum baru sekadar komunikasi dan belum sampai ke perizinan," kata Kepala Desa (Kades) Giriasih Ujang Supiandi saat dikonfirmasi, Minggu 11 April 2025. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Sejumlah pembangunan di Desa Giriasih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diduga menjadi salah satu faktor pemicu banjir yang menerjang permukiman warga Kampung Cibeber Hilir RW02 dan 03 pada Jumat 11 April 2025.

Tak hanya itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Giriasih mengakui belum menerima adanya pengajuan perizinan yang masuk ke desa.

"Untuk pembangunan pemakaman DT Memorial Park belum baru sekadar komunikasi dan belum sampai ke perizinan," kata Kepala Desa (Kades) Giriasih Ujang Supiandi saat dikonfirmasi, Minggu 11 April 2025.

"Mereka hanya bilang akan ada pembangunan makam, tapi izinnya ke desa belum ada," sambungnya.

Termasuk, sambung Ujang, kepada warga pun baru sekadar komunikasi dan belum ada realisasi, seperti pemberian kompensasi dan lain sebagainya. Padahal, DT Memorial Park ada di wilayah Desa Giriasih.

"Kalau perumahan The Awani Residence 3 dulu sempat ditutup, tapi tiba-tiba pembangunannya dilanjutkan. Lahanya juga cukup luas sekitar 8 hektare," ujarnya.

Sebenarnya, ungkap Ujang, tiap hujan besar wilayahnya kerap diterjang banjir. Hanya saja, baru kali ini warganya menjadi korban. 

Meski begitu, tegas Ujang, pihaknya meminta baik legislatif maupun eksekutif menindaklanjuti kondisi ini.

"Kami tidak ingin hanya seremonial belaka, namun harus ada tindak lanjut untuk ke depannya," ungkapnya.

Sejauh ini, klaim Ujang, guna menangani banjir di wilayahnya pihaknya telah menugaskan sejumlah orang untuk membersihkan sampah di sini. Adapun, penumpukan sampah itu dari saluran air.

"Kami pernah koordinasi agar merek tidak membuang sampah sembarangan ke aliran sungai Cihaur, namun mereka hanya mengiyakan saja," paparnya.

"Kami juga pernah berkoordinasi dengan pihak yang menggunduli hutan, mereka juga bakal melakukan penghijauan, tapi sampai sekarang tidak ada," tambahnya.

Ujang menyebut, sebagian sampah yang masuk ke wilayahnya melalui sungai Cihaur berasal dari Kota Cimahi, tepatnya wilayah Ciseupan.

"Kami juga sudah menegur pabrik-pabrik soal penyempitan saluran, tapi bandel. Harusnya kami pun dibantu oleh pihak-pihak terkait, kami juga sudah berkomunikasi agar bagaimana kita bisa koordinasi dengan pabrik," katany.

"Tapi ternyata mereka tertutup, susah kami masuk," imbuhnya.

Ketua Komisi I DPRD KBB Sandi Supyandi menuturkan, terkait dengan pabrik-pabrik yang menutup diri dari masyarakat pihaknya bakal mengawal adanya Peraturan Desa (Perdes).

"Untuk keberlangsungan masyarakat desa, saya akan mengawal dengan Pemdes dan BPD untuk membuat Perdes di Desa Giriasih," kata Sandi.

Menurutnya, hal tersebut harus dilakukan lantaran pengusaha saat ini harus mulai buka mata dan telinga. Para pengusaha sudah harus bisa memberdayakan masyarakat sekitar, dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.

"Termasuk kawasan industri. Kita akan kaji turunan perdes dan itu harus ada," tegasnya.

Diketahui, hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bandung Barat pada Jumat 11 April 2025 siang lalu membuat sungai Cihaur meluap dan memicu terjadinya banjir di wilayah tersebut.

Sedikitnya, sebanyak delapan rumah dan lahan pesawahan seluas 5.000 meter persegi di Kampung Cibeber Hilir RW 02 dan RW 03 terendam banjir dengan ketinggian air rata-rata mencapai 50 sentimeter.

"Kalau di RW03 yang terendam banjir ada 4 rumah dan sawah, cuma secara keseluruhan sama RW02 ada 8 rumah. Rata-rata ketinggian air sekitar 50 sentimeter," kata Ketua RT02, Asep Tarsa (58) saat ditemui, Minggu 13 April 2025.

Sebenarnya, ungkap Asep, banjir di Kampung Cibeber Hilir mulai terjadi semenjak adanya pembangunan pemakaman DT Memorial Park yang berjarak sekitar 3 kilometer dan perumahan The Awani Residence 3 yang tak jauh dari permukiman warga.

"Sejak adanya pembangunan di kawasan hulu kedalaman selokan-selokan yang awalnya sedalam lebih dari 1 meter, sekarang tingginya hanya sejengkal," ungkapnya.

Padahal, terang Asep, pihaknya sudah meminta kepada pengembang termasuk aparatur wilayah untuk melakukan pembenahan drainase sebelum alat berat naik ke kawasan tersebut.

"Tapi gak ada respon dari pihak manapun padahal itu demi keselamatan warga. Jadi, jangan salahkan saya kalau terjadi bencana menimpa warga, karena sebagai Ketua RT saya sudah melapor ke desa hingga kecamatan tapi gak ada respon," terangnya.


Editor : Doni Ramdhani