Dikritik Atalia Soal Penambahan Rombel, Dedi Mulyadi: Karena Selama Ini Pemerintah Provinsi Kurang Bangun Sekolah

nggota DPR RI Atalia Praratya melayangkan kritik, mengenai kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS), yakni adanya penambahan rombongan belajar (Rombel) dalam satu kelas di jenjang SMA/SMK.

Dikritik Atalia Soal Penambahan Rombel, Dedi Mulyadi: Karena Selama Ini Pemerintah Provinsi Kurang Bangun Sekolah

INILAHKORAN, Bandung - Anggota DPR RI Atalia Praratya melayangkan kritik, mengenai kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS), yakni adanya penambahan rombongan belajar (Rombel) dalam satu kelas di jenjang SMA/SMK.

Menjawab kritikan ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, penambahan rombel ini dilakukan karena jumlah sekolah dan siswa tidak sebanding.

Banyak daerah, seperti Kota Bandung, Kota Depok, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kota Bogor kata Dedi, yang kekurangan jumlah sekolah. Sebab itu, penambahan rombel dilakukan untuk mengakomodir kebutuhan pendidikan siswa.

"Nah, kenapa kekurangan sekolah? Karena selama ini pemerintah provinsinya kurang membangun sekolah dan kurang membangun ruang kelas," ujar Dedi dikutip Rabu 6 Agustus 2025.

Pemprov Jabar yang berwenang terhadap SMA dan SMK kata dia, selama ini lebih banyak membelanjakan APBD pada teknologi informasi, ketimbang membangun ruang kelas baru (RKB) maupun unit sekolah baru (USB).

Sebab berdasarkan catatannya, Pemprov Jabar di era sebelum kepemimpinannya cuma membangun 38 sekolah baru, yang mana menurutnya masih kurang karena banyak anak yang tidak dapat difasilitasi untuk pendidikannya, khususnya dari kalangan kurang mampu. Sehingga penambahan rombel dilakukan, sampai akhirnya RKB dan USB dibangun.

"Itu kan belanjanya banyak di dibelanjain teknologi informasi. Kan baru sekarang bangun ruang kelas yang banyak," ucapnya.

Disinggung apakah pemimpin Pemprov Jabar yang dimaksud adalah Ridwan Kamil, Dedi memilih tidak menjawab.

"Saya enggak tahu, sebelumnya apa bukan," kata dia.

Sebelumnya, Atalia menyampaikan kritikannya mengenai kebijakan pendidikan di Jabar, terkait penambahan rombel yang dimungkinkan mencapai 50 siswa dalam satu kelas.

Kritik ini disampaikan Atalia, karena banyak keluhan dari para guru yang diterimanya, lantaran kelimpungan harus membimbing siswa yang jumlahnya sampai 50 orang.

"Saya banyak dapat masukan dan curhat dari guru. Mereka mengurus 25 murid dalam satu kelas saja sudah repot, apalagi ini 50 anak, apalagi di masa mereka ini usia remaja,” ujar Atalia.

Belum lagi menurutnya dengan kondisi padat seperti itu, diyakini akan memengaruhi kenyamanan para siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.

"Bagaimana mungkin anak nyaman duduk berhimpitan dengan kondisi sekelas 50 orang. Aktivitas mereka enggak akan nyaman dan sulit,” tandasnya. (Yuliantono)


Editor : Ahmad Sayuti