Dilema Petani di Kabupaten Bandung: Pupuk Sulit dan Mahal, Tenaga Kerja pun Semakin Langka
Musim tanam padi tahun ini para Petani di Kabupaten Bandung masih saja dipusingkan dengan mahal dan sulitnya pupuk bersubsidi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Musim tanam padi tahun ini para Petani di Kabupaten Bandung masih saja dipusingkan dengan mahal dan sulitnya pupuk bersubsidi.
Namun meski pupuk mahal dan sulit, para Petani di Kabupaten Bandung tetap setia menanam padi karena tak ada lagi pekerjaan lain yang bisa dijadikan mata pencaharian.
Matahari masih belum terbit, Petani di Kabupaten Bandung vernama Iyus (46) warga Kampung Sangkanbetah Desa Parungaserab Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung sudah berada di tengah sawah di tepi Jalan Raya Soreang.
Baca Juga: Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan Borong Dagangan Pedagang di Pasar Jagasatru Cirebon
Tangan kirinya menjinjing ember kecil, sedangkan tangan kanannya dengan cekatan dan telaten menabur-naburkan pupuk ke tanaman padi.
Pupuk yang ditaburkan itu tepat jatuh disekitar jumput padi. Tujuannya, agar padi yang masih berusia sekitar dua bulan itu dapat tumbuh subur dengan bulir padi yang rindang.
"Sekarang ini pupuk masih saja sulit dan mahal. Apalagi pupuk ZA (Zwavelzure Amonium) enggak ada. Kalaupun ada harganya mahal sekitar Rp 350 per 50 kilogram. Karena ZA sulit, jadi terpaksa kami cuma pakai pupuk urea sama Phonska (NPK)," kata Iyus disela istirahat dipematang sawah kepada INILAHKORAN, Minggu 17 Juli 2022.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, Tinggi Letusan Capai 2000 Meter
Menurut Iyus, harga pupuk urea saat ini sekitar Rp 200 ribu per 50 kilogram. Sedangkan pupuk NPK Phonska per karung ukuran 26 kilogram harganya Rp 250 ribu. Harga pupuk yang tinggi ini memang cukup merepotkan bagi para petani seperti dirinya. Belum lagi ditambah ongkos pekerja, seperti mencangkul, ngarambet (membersihkan rumput liar), upah panen, upah angkut gabah dan sewa lahan.
"Ya rata-rata biaya produksi itu per 100 tumbak kurang lebih Rp1 juta. Jadi kalau untuk 1 hektar lahan itu modal kerjanya sekitar Rp7 juta an. Kalau panen dari 1 hektar sawah itu biasanya ada sekitar 7 ton. Nah pupuk kan mahal yah, sedangkan harga gabah basah masih saja tetap cuma Rp 4500 perkilogram, masih ada untung sih tapi yah sangat tipis," ujarnya.
Iyus melanjutkan, ia masih setia dengan pekerjaannya ini karena memang ini adalah pekerjaan pilihannya. Sekaligus meneruskan jejak orang tuanya sebagai petani. Dari pekerjaan inilah ia bisa menafkahi anak dan istrinya. Sawah yang ia garap pun cukup luas, mencapai kurang lebih seluas 2 hektar. Sawah itu ia sewa dari pemiliknya dengan biaya sewa 3 kilogram gabah untuk setiap 1 tumbak (1 tumbak itu sama dengan 14 meter persegi).
Baca Juga: Ubudnya Bogor, Jadi Tuan Rumah Jambore Desa Wisata 2022
"Menjadi petani itu pilihan saya. Karena jejak orang tua, dan saya rasa pekerjaan apapun selama itu halal tidak boleh dianggap remeh. Dan Alhamdulilah dari pekerjaan inilah kami sekeluarga hidup,"katanya.
Iyus menceritakan, selain harga pupuk yang mahal serta keterbatasan lahan. Permasalahan lain yang menjadi kendala pertanian saat ini adalah semakin sulitnya tenaga kerja. Generasi muda sekarang enggan untuk turun ke sawah menjadi petani. Kata dia, anak-anak muda lebih tertarik bekerja di pabrik atau menjadi pelayan dipertokoan di kota. Alhasil, tenaga kerja pertanian itu, dari hari kehari semakin menyusut.
"Di kampung saya saja rata-rata pekerja tani usianya diatas 50 an. Enggak ada yang usianya dibawah 40 an. Anak-anak muda lebih tertarik bekerja di pabrik dan toko. Mereka enggak mau kotor-kotoran di sawah atau kebun. Nah kondisi ini yang membuat kamu repot setiap butuh tenaga kerja, akhirnya orangnya yah itu-itu saja," ujarnya. (Dani R Nugraha)
Editor : inilahkoran


