Dipasang Sembarang, Warga Sebut APS Bacalon Bupati Bandung Barat Menganggu dan Mengancam Pengendara Jalan

Berdasarkan pantauan di lapangan, beragam atribut dari ukuran kecil hingga raksasa terpasang berjajar, seperti di Jalan Raya Cijamil-Cisarua, Kecamatan Ngamprah.

Dipasang Sembarang, Warga Sebut APS Bacalon Bupati Bandung Barat Menganggu dan Mengancam Pengendara Jalan

INILAHKORAN, Ngamprah - Sejumlah bakal calon bupati bandung barat yang akan berlaga pada Pilkada Serentak 2024 tengah gencar melakukan beragam sosialisasi dengan memanfaatkan berbagai media seperti backdrop, spanduk, billboard hingga pamflet.

Kendati demikian, alih-alih memperkenalkan diri melalui alat peraga sosialisasi (APS), atribut para bacalon Bupati Bandung Barat tersebut malah menganggu pemandangan, bahkan merusak lingkungan.

Pasalnya, atribut dipasang secara sembarangan dengan cara dipaku di pohon-pohon di berbagai titik di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berdasarkan pantauan di lapangan, beragam atribut dari ukuran kecil hingga raksasa terpasang berjajar, seperti di Jalan Raya Cijamil-Cisarua, Kecamatan Ngamprah.

Tak hanya pohon, tiang penerangan jalan umum (PJU) pun turut menjadi sasaran pemasangan APS. Salah satunya seperti Bacalon Bupati Bandung Barat 2024, Edi Rusyandi.

Selain itu, sosok kandidat bacalon bupati lain, yakni Ujang Rohman yang posternya dipasang dengan cara dipaku di pohon.

Selain kedua kandidat tersebut, para calon lain pun memasang atribut secara serampangan dengan cara menyandarkan spanduk raksasa pada tiang-tiang listrik di lokasi ataupun di lahan milik orang lain.

Yuda (35), warga Kampung Ngamprah Landeuh, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah ini mengaku risih lantaran atribut para kandidat Balon Bupati Bandung Barat yang dipasang secara serampangan mengganggu pemandangan. 

“Ganggu banget, itu berizin apa tidak,” kata Yuda kepada wartawan, Kamis 13 Juni 2024.

Menurutnya, pemasangan atribut secara serampangan tentu bakal menggangu keindahan di lokasi tersebut. Apalagi wilayah itu dekat dengan kantor Pemda Bandung Barat.

Selain menganggu, terang Yuda, pihaknya khawatir spanduk berukuran raksasa yang terpampang hanya sekadar disandarkan pada tiang listrik dan bisa ambruk tiba-tiba yang bisa meminta korban.

“Bahaya, kan ini dekat jalan raya. Disandarkan di pinggir jalan, kalau ambruk terkena angin, pengendara yang jadi korban,” imbuhnya.

Hal senada pun diungkapkan Reza (28), salah seorang pengendara motor asal Desa Padalarang, mengaku khawatir jika tiba-tiba spanduk berukuran raksasa itu tiba-tiba ambruk mengenai pengendara lainnya.

Seharusnya, sebut Reza, pemasangan APS dilakukan tanpa merusak lingkungan serta memperhatikan etika.

“Sepanjang Jalan Raya Cijamil ini banyak spanduk besar. Takutnya rubuh menimpa orang, jadi harus ditertibkan. Selain menggangu, takut aja ada korban,” sebutnya.*** 


Editor : Ahmad Sayuti