Diprotes Warga, Ratusan Karung Diduga Berisi Limbah Batu Bara Ancam Kesehatan Anak-anak di Kecamatan Cihampelas

Ratusan karung yang diduga berisi limbah batu bara menumpuk di Jalan Irigasi, Kampung Rongga RW06, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuai protes warga sekitar. 

Diprotes Warga, Ratusan Karung Diduga Berisi Limbah Batu Bara Ancam Kesehatan Anak-anak di Kecamatan Cihampelas
Ratusan karung yang diduga berisi limbah batu bara menumpuk di Jalan Irigasi, Kampung Rongga RW06, Desa/Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menuai protes warga sekitar. /Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Ratusan karung yang diduga berisi limbah batu bara menumpuk di Jalan Irigasi, Kampung Rongga RW06, Desa/kecamatan cihampelas, kabupaten bandung barat (KBB) menuai protes warga sekitar. 

Pasalnya, keberadaan material limbah yang diduga batu bara itu dikhawatirkan bakal mencemari lingkungan. Mirisnya, material itu diurug di sekitar jalan irigasi.

Salah seorang warga setempat, Suprianto (63) mengaku para warga di Kampung Rongga sudah merasakan dampak keberadaan limbah yang diduga batu bara itu.

"Waktu hujan beberapa waktu kemarin airnya berubah warna jadi hitam. Kemudian saat kemarau debu limbahnya cukup tebal dan membuat anak-anak terkena flu dan radang tenggorokan," kata Suprianto kepada wartawan.

Suprianto menyebut, limbah yang diduga batu bara itu dibuang ke kawasan pertanian sejak dua bulan terakhir. Di awal, hampir stiap hari dump truk kerap hilir mudik mengangkut limbah-limbah tersebut, sehingga membuat warga khawatir.

"Udah dua bulan, setiap hari dump truk itu bisa sampai 15 hingga 16 kali buang limbah. Tapi belum tahu siapa dan darimana truk-truk itu," ucapnya.

Padahal, warga Kampung Rongga RW06 tidak pernah memberikan izin wilayahnya dijadikan lokasi pembuangan material yang diduga limbah batu bara.

"Enggak ada (komunikasi). Cuma dari cerita sudah ada izin dari pihak desa katanya. Kalau warga tahunya ada yang buang aja. Ya ini limbah batu bara dan rupanya abu hitam aja. Jadi berdebu apalagi kalau lagi banyak angin," tandasnya.

Terpisah, Ketua RW 06 Desa Cihampelas Asep Kusumah menuturkan, secara tertulis ada RT 01 dan 02 yang menyatakan menolak wilayah tersebut dijadikan lokasi pembuangan material yang diduga limbah batu bara itu.

"Karena kan ada kekhawatiran berdampak pada lingkungan karena limbah itu berbahaya meskipun untuk limbah di sini kita belum pernah uji lab," ujarnya.

Tak cuma itu, Asep mengakui pihaknya sama sekali tidak mendapatkan konfirmasi terkait pembuangan material yang diduga limbah batu bara itu. Hanya saja setelah dikonfirmasi ke pihak desa setempat, izin memang sudah dikeluarkan. 

"Untuk laporan ke pemerintah setempat (RW) aja belum ada. Tapi kalau ke desanya sudah ada izin. Tapi itu untuk tahun 2022 dan itupun tidak sampai ke RW 06," sebutnya 

"Selama dua bulan saya sendiri tidak tahu. Tadinya memang ada yang meminta untuk mengurug lahan sendiri di RW 02, tapi dia belum tahu bahwa diurugnya ternyata sama batu bara," paparnya.

"Tapi lama kelamaan ternyata terus-menerus membuang sampai ke RW 06," sambungnya.

Kendati demikian, terang Asep, warga sudah berembug dan sepakat wilayahnya untuk dijadikan lokasi pembuangan limbah meski dengan alasan untuk pengurugan jalan.

Tak cuma itu, warga bahkan berencana bakal meminta ganti rugi lantaran selama sekitar dua bulan wilayahnya terdampak polusi dari material yang diduga limbah batu bara tersebut.

"Saat ini memang belum ada audensi terkait pertanggungjawaban. Jadi sebelum dampaknya terjadi lebih jauh, terutama saat musim hujan makanya warga sekitar menolak," ujarnya.

"Ini sebagai bentuk antisipasi daripada nanti dampaknya benar membahayakan nanti ke siapa minta pertanggungjawabannya," tegasnya.*** 


Editor : JakaPermana