Disbudparpora Cimahi Kukuhkan Cireundeu Sebagai Kampung Percontohan Pangan dan Wisata

Rangkaian syukuran adat Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang digelar Kampung Adat Cireundeu pada 9–11 Juli 2026.

Disbudparpora Cimahi Kukuhkan Cireundeu Sebagai Kampung Percontohan Pangan dan Wisata
Kadisbudparpora Cimahi, Dani Bastian sebut telah tetapkan rasi sebagai Warisan Budaya Takbenda.

INILAHKORAN.ID - Rangkaian syukuran adat Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda yang digelar Kampung Adat Cireundeu pada 9–11 Juli 2026 kian mengokohkan posisi kawasan tersebut sebagai aset budaya unggulan Kota Cimahi

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi, Dani Bastian menegaskan pemerintah daerah terus berkomitmen menjaga, merawat dan mengembangkan keistimewaan kampung ini agar menjadi ikon edukasi budaya sekaligus ketahanan pangan bagi masyarakat luas.

"Perayaan tahunan ini dihadiri oleh tokoh adat dari berbagai wilayah seperti Banten, Kuningan, hingga Cibuluh, serta mendapat dukungan langsung dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia," kata Dani saat ditemui, Sabtu (11/7/2026)

Dani menyebut, salah satu nilai utama yang dipertahankan dan kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), yakni rasi atau beras singkong. 

Di samping itu, Kota Cimahi saat ini mencatat 3 daftar WBTB dan 12 Cagar Budaya, di mana rasi menjadi salah satu kebanggaan yang juga menjadi perhatian Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo dalam sambutannya secara virtual.

“Keistimewaan Cireundeu bukan hanya pada tradisi rutinnya, melainkan pada kearifan pangan yang terbukti mandiri dan sehat. Itulah mengapa rasi resmi masuk daftar WBTB," ungkapnya.

Ke depannya, terang Dani, pihaknya menargetkan menjadikan Kampung Adat Cireundeu sebagai percontohan utama pengembangan Kampung Sosial Berbasis Ketahanan Pangan yang berorientasi pada pariwisata edukatif.

"Kawasan ini juga kini sering dijadikan lokasi kajian dan penelitian oleh berbagai kalangan akademisi untuk mempelajari keseimbangan antara pelestarian budaya dan kehidupan modern," terangnya.***


Editor : JakaPermana