Disdik Jabar Ingatkan Bahaya Gawai, Sekolah Diminta Perkuat Kebiasaan Menulis Tangan
Disdik Jabar mengimbau agar sekolah memperkuat kebiasaan menulis tangan dan mengingatkan bahaya ketergantungan kepada
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi digital dan penguatan literasi dasar siswa. Di tengah pesatnya penggunaan gawai dalam pembelajaran, sekolah diminta tidak mengabaikan kebiasaan menulis tangan yang dinilai berperan penting dalam membangun daya pikir dan daya ingat peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto menilai, transformasi digital memang menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan dunia pendidikan. Namun, menurutnya, keterampilan dasar seperti membaca dan menulis tangan tetap harus dijaga agar tidak tergeser oleh ketergantungan terhadap perangkat digital.
“Transformasi digital dalam pendidikan memang tidak bisa dihindari, namun keterampilan dasar seperti membaca, menulis tangan, dan kemampuan berpikir reflektif tetap harus diperkuat. Menulis tangan memiliki peran penting dalam melatih konsentrasi, daya ingat, serta kemampuan mengolah gagasan siswa,” kata Purwanto, Rabu 11 Maret 2026.
Purwanto menegaskan, satuan pendidikan perlu memanfaatkan teknologi secara bijak. Digitalisasi pembelajaran seharusnya menjadi alat pendukung, bukan menggantikan fondasi kemampuan literasi yang selama ini menjadi dasar proses belajar siswa.
“Kami mendorong satuan pendidikan untuk tetap memberikan ruang bagi aktivitas literasi yang melibatkan tulisan tangan. Sehingga, siswa tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tapi juga memiliki kemampuan berpikir yang kuat dan terstruktur,” ucapnya.
Sebelumnya, akademisi Rhenald Kasali menyoroti fenomena menurunnya kemampuan dasar siswa yang dinilai berkaitan dengan penggunaan perangkat digital secara berlebihan.
Menurutnya, sejumlah negara justru mulai kembali menekankan praktik menulis tangan serta penggunaan buku cetak dalam kegiatan belajar mengajar.
Ia mencontohkan kebijakan di Inggris yang mendorong siswa sekolah dasar untuk menulis tangan setiap hari sebagai sarana refleksi dan penguatan kemampuan berpikir.
“Di Inggris sekarang anak-anak SD setiap hari diminta menulis tangan untuk menuangkan refleksi dan pandangan mereka. Saya sempat bertanya kepada para neuroscientist di sana, mengapa kebiasaan ini kembali ditekankan. Mereka menjelaskan bahwa temuan di bidang neurologi menunjukkan anak yang menulis dengan tangan memiliki perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan yang sepenuhnya bergantung pada perangkat digital,” ucapnya.
Rhenald menambahkan, pendekatan serupa juga mulai terlihat di negara-negara Skandinavia yang kembali mengedepankan penggunaan buku cetak dalam pembelajaran. Kebijakan tersebut muncul dari kekhawatiran bahwa generasi yang tumbuh di era digital memiliki daya ingat lebih lemah dibandingkan generasi sebelumnya.
Ia juga menceritakan pengalamannya saat melakukan evaluasi dalam sebuah pelatihan. Ketika peserta diminta mengisi formulir secara tertulis, sebagian besar justru meminta versi digital karena merasa sudah tidak terbiasa menulis tangan.
“Saya bagikan formulir evaluasi dan meminta mereka menuliskannya. Ternyata, sebagian besar meminta versi digital. Ketika saya tanya alasannya, mereka mengatakan sudah tidak terbiasa menulis tangan. Ini menunjukkan kemampuan dasar tersebut mulai tergantikan oleh kebiasaan menggunakan gawai,” ungkapnya.
Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, penguatan kemampuan literasi dasar tetap menjadi pekerjaan rumah penting bagi dunia pendidikan, termasuk di Jawa Barat.
Editor : Ahmad Sayuti

