DLH Luncurkan Aplikasi SIRUSA : Sampah Dipilah Manfaat Berlimpah

DARI hotel, restoran, hingga kafe, sampah mulai dicatat setiap hari. Data itu menjadi pijakan baru pengelolaan sampah Kota Bogor.

DLH Luncurkan Aplikasi SIRUSA : Sampah Dipilah Manfaat Berlimpah
APLIKASI SIRUSA: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim melakukan soft launching aplikasi SIRUSA untuk mendata timbulan sampah yang dihasilkan HORECA di Auditorium Bima Arya Sugiarto, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa (18/8). Aplikasi ini diharapkan membuat data sampah di Kota Bogor lebih akurat sekaligus membantu pemerintah menentukan pola pengangkutan hingga kebutuhan sampah untuk Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Oleh: Rizki Mauludi

Sampah dari hotel, restoran, dan kafe di Kota Bogor kini tak lagi hanya dihitung berdasarkan perkiraan. Pemerintah mulai meminta para pelaku usaha mencatat sendiri berapa banyak sampah yang mereka hasilkan setiap hari.

Langkah itu dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor melalui soft launching aplikasi Sistem Rute Angkutan Sampah (SIRUSA) di Auditorium Bima Arya Sugiarto, Kecamatan Bogor Tengah, Selasa (18/8). 

Aplikasi tersebut dirancang untuk mengumpulkan data timbulan sampah langsung dari sumbernya. Dari sana, pemerintah berharap memiliki gambaran yang lebih akurat untuk menentukan pola pengangkutan, kebutuhan pengolahan, hingga pasokan sampah bagi rencana Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Pelaku usaha, termasuk hotel, restoran, dan kafe, memiliki tanggung jawab untuk mengelola sampah sejak dari sumber.

"Yang namanya mengelola sampah itu jangan hanya bicara di ujungnya saja, pemerintah ngangkutin sampahnya. Tetapi tanggung jawab sosialnya dari para pelaku usaha pun harus ada," ungkap Dedie.

Tanggung jawab itu, menurut Dedie, dimulai dari hal paling sederhana: memilah sampah sebelum dibuang.  Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi sebaiknya tidak langsung diserahkan kepada pemerintah. Barang yang masih bisa digunakan kembali atau didaur ulang perlu dikelola agar tetap memiliki manfaat.

"Yang pertama pemilahan di hulu. Apa yang memang masih punya nilai ekonomi, ya tentunya sebaiknya dikelola sendiri," terangnya.

Dedie mendorong prinsip pengurangan dan pemanfaatan sampah tersebut diterapkan di seluruh sumber penghasil sampah, bukan hanya sektor HORECA.

"Kang ada yang bisa di-recycle, barangkali ada yang masih bisa dimanfaatkan, silakan dimanfaatkan. Saya berharap prinsip tersebut diterapkan tidak hanya oleh pelaku usaha HORECA, tetapi seluruh sumber penghasil sampah. Kami ingin persoalan sampah sebisa mungkin diselesaikan terlebih dahulu di lokasi sumbernya," jelasnya.

Dengan cara itu, sampah yang akhirnya dibawa pemerintah merupakan sampah yang benar-benar sudah tidak memiliki nilai manfaat.

"Dengan demikian, sampah yang diserahkan kepada pemerintah benar-benar merupakan sampah yang sudah tidak memiliki nilai manfaat. Jadi semua urusan sampah itu selesai di restoran, selesai di hotel, selesai di perkantoran, selesai di sekolah, selesai di rumah sakit," tutur Dedie.

Selama ini, salah satu persoalan dalam pengelolaan sampah adalah keterbatasan data. Jumlah sampah yang dihasilkan dari berbagai sumber kerap dihitung berdasarkan perkiraan.

Sekretaris DLH Kota Bogor Setiawati mengatakan aplikasi itu dikembangkan untuk memperoleh data timbulan sampah secara langsung dari setiap sumber.

"SIRUSA ini kita kembangkan untuk bisa mendapatkan data yang akurat, data timbulan sampah di setiap sumber sampah. Salah satunya HOREKA yang juga berkontribusi menyumbangkan timbulan sampah di Kota Bogor," tutur Setiawati.

Sektor HORECA diperkirakan menyumbang sekitar 20 hingga 30 persen dari total timbulan sampah di Kota Bogor. Karena itu, pendataan dari sektor tersebut menjadi penting untuk mengetahui seberapa besar sampah yang sebenarnya dihasilkan setiap hari. (gin)


Editor : Inilahkoran