Dorong Pemajuan Kebudayaan, Komisi X DPR Usulkan Konsep 'Ngajagi Lembur'
Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah mendorong Kemenbud menerapkan konsep 'Ngajagi Lembur' untuk memperkuat nilai gotong royong dan pembangunan daerah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, mendorong Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) untuk menerapkan konsep "Ngajagi Lembur" atau menjaga kampung sendiri.
Konsep kearifan lokal ini mengusung gerakan gotong royong untuk membangun dan mengembangkan potensi daerah di berbagai sektor.
"Konsep ini berlaku untuk seluruh Indonesia, termasuk Garut. Namun, tata cara dan metodenya disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing," ujar Ferdiansyah usai Diskusi Budaya Gotong Royong dalam Pemajuan Ekosistem Kebudayaan di Cipanas, Kabupaten Garut seperti dikutip dari Antara, Jumat (7/8/2026).
Ferdiansyah menjelaskan, konsep Ngajagi Lembur mengadopsi filosofi sapu lidi. Ketika lidi-lidi diikat menjadi satu kesatuan yang utuh, terdapat kekuatan besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan di wilayah tersebut.
"Seperti sapu lidi yang diikat menjadi satu agar tidak terurai. Kebersamaan ini menjadi dasar untuk menyelesaikan masalah ekonomi, sosial, budaya, hingga politik," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa keberagaman yang dimiliki Indonesia bukanlah kekurangan, melainkan nilai tambah untuk mencapai tujuan nasional sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Melalui pelestarian nilai Ngajagi Lembur, keberagaman tersebut dapat menjadi modal sosial utama dalam mengatasi berbagai tantangan di daerah.
Nilai-nilai keberagaman ini, lanjut dia, harus dijaga dan dikembangkan kelestariannya melalui konsep "Ngajagi Lembur" di berbagai daerah sehingga menjadi modal untuk penyelesaian masalah apapun.
"Dalam konteks ada kesamaan, dan irisan yang sama di antara setiap provinsi dan kabupaten, hanya saja mungkin adalah metodenya atau tata caranya yang berbeda-beda," katanya.
Ia berharap adanya konsep "Ngajagi Lembur" itu tidak hanya ada nilai budayanya, tapi juga kebersamaan, kemudian menjaga rasa aman, nyaman yang akhirnya tumbuh ekonomi masyarakat karena terdapat perkumpulan orang.
Ia berharap, masyarakat tidak hanya tentang penerapan sistem keamanan lingkungan (siskamling) yang selama ini sudah berjalan, tapi ada kegiatan lain yang memiliki nilai kesadaran saling membantu apabila ada yang kesusahan, dan mendukung atau ikut senang apabila ada yang bergembira.
"Jadi, konteksnya jangan yang kesusahan, tapi senang pun harus kita bersama-sama, kebersamaan itu dibangun ketika susah dan senang," katanya.
Editor : Ahmad Sayuti


