DPRD Kabupaten Bandung Desak Kebijakan Benar-Benar Berpihak pada Anak

Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung Cecep Suhendar mengingatkan, masa depan Indonesia ditentukan kualitas anak-anak yang dibesarkan hari ini.

DPRD Kabupaten Bandung Desak Kebijakan Benar-Benar Berpihak pada Anak
Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung Cecep Suhendar mendorong seluruh pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah hingga masyarakat harus memastikan setiap anak memperoleh haknya secara utuh. (dok)

INILAHKORAN.ID - Peringatan Hari anak Nasional (HAN) 2026 memang telah berlalu. Namun, perjuangan memenuhi hak-hak anak tidak boleh ikut berakhir bersama selesainya seremoni tahunan tersebut.

Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bandung Cecep Suhendar mengingatkan, masa depan Indonesia ditentukan kualitas anak-anak yang dibesarkan hari ini. Untuk itu, seluruh pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah hingga masyarakat harus memastikan setiap anak memperoleh haknya secara utuh.

"Semangat Hari anak Nasional jangan hanya berhenti pada peringatan seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan setiap anak mendapatkan haknya untuk hidup, tumbuh, berkembang, belajar, bermain, mendapatkan perlindungan, serta didengar dan dihargai pendapatnya," ujar Cecep di Soreang, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, investasi terbaik bagi bangsa adalah memastikan seluruh anak memperoleh kebutuhan dasar sejak dini, mulai dari gizi yang cukup, layanan kesehatan, imunisasi, akta kelahiran hingga pendidikan yang layak.

Dia mengingatkan, masih adanya kasus stunting, anak putus sekolah, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan.

"Jangan sampai masih ada anak yang mengalami stunting, tidak mendapatkan layanan kesehatan yang memadai, atau terpaksa putus sekolah karena persoalan biaya. anak-anak harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal," katanya.

Cecep juga menyoroti pentingnya menghadirkan sekolah yang benar-benar ramah anak. Baginya, sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai akademik, melainkan ruang aman untuk membangun karakter, kreativitas, kemampuan sosial hingga mengembangkan bakat setiap anak.

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK). Dia menilai pendidikan inklusif tidak boleh berhenti sebatas slogan, tetapi harus diwujudkan melalui penyediaan guru pendamping, fasilitas memadai, serta lingkungan belajar yang bebas dari diskriminasi maupun perundungan.

"Harus ada dukungan guru pendamping, fasilitas yang memadai, lingkungan yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus, serta yang paling penting tidak boleh ada bullying atau perundungan," tegasnya.

Selain pendidikan, Cecep menilai tantangan perlindungan anak kini semakin kompleks. Ancaman kekerasan, eksploitasi, perundungan hingga cyberbullying menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama, terutama di tengah masifnya penggunaan media sosial dan teknologi digital.

Dia mengingatkan agar rumah tetap menjadi ruang paling aman bagi anak untuk bercerita, sementara sekolah wajib menjadi lingkungan yang bebas dari segala bentuk kekerasan.

"Jangan sampai gadget lebih banyak hadir dalam kehidupan anak dibandingkan orang tua. Teknologi harus dimanfaatkan untuk mendukung tumbuh kembang anak, bukan menggantikan peran keluarga dalam mendidik dan mendampingi mereka," ujarnya.

Cecep juga menekankan pentingnya memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat. Menurutnya, anak bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek yang berhak didengar dalam setiap kebijakan yang menyangkut kehidupannya.

Dalam konteks pembangunan daerah, ia mendorong agar predikat Kabupaten Layak anak tidak sekadar menjadi penghargaan administratif, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang dirasakan langsung oleh anak dan keluarganya.

Dia meminta pemerintahan daerah bersama DPRD terus memperkuat anggaran untuk pendidikan anak usia dini (PAUD), pemenuhan gizi, layanan kesehatan, ruang bermain ramah anak, pendidikan inklusif hingga perlindungan bagi anak dan keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus.

"Anggaran daerah harus mampu menjawab kebutuhan anak. Kita membutuhkan PAUD yang berkualitas, ruang publik yang ramah anak, layanan kesehatan yang mudah diakses, pendidikan yang inklusif, serta program yang memberikan dukungan kepada keluarga, termasuk keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus," katanya.

 Cecep mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan tersebut sebagai pengingat bahwa Indonesia Emas 2045 hanya bisa diwujudkan apabila anak-anak hari ini tumbuh sehat, cerdas, berkarakter dan terlindungi.

"Kuatnya Indonesia 20 tahun mendatang sangat ditentukan oleh anak-anak yang kita besarkan hari ini. Kalau anak-anak kita sehat, cerdas, berkarakter, bahagia, dan mendapatkan perlindungan yang baik, maka kita sedang menyiapkan generasi yang akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang kuat," ujarnya.

Cecep mengingatkan agar orang tua tidak memaksakan anak menjadi sesuai keinginan orang dewasa. Menurutnya, tugas orang tua dan masyarakat adalah menyiapkan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang agar setiap anak mampu tumbuh menjadi versi terbaik dirinya.

"Setiap anak memiliki jalannya sendiri. Tugas kita adalah menyiapkan jalan yang aman, terang, dan penuh cinta agar mereka dapat tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya," katanya.


Editor : Doni Ramdhani