Groundbreaking TPPAS Legok Nangka Jadi Harapan Baru, DPRD: Jangan Hanya Mercusuar
Groundbreaking Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah TPPAS Legok Nangka di Kecamatan Nagreg menjadi angin segar bagi upaya penanganan krisis sampah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Groundbreaking Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah TPPAS Legok Nangka di Kecamatan Nagreg menjadi angin segar bagi upaya penanganan krisis sampah di Kabupaten Bandung.
Namun, DPRD Kabupaten Bandung mengingatkan agar proyek bernilai strategis itu tidak berhenti sebatas seremoni pembangunan.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M Akhiri Hailuki menegaskan, TPPAS Legok Nangka harus benar-benar menjadi solusi nyata atas persoalan sampah yang selama ini membayangi Kabupaten Bandung.
Menurutnya, keberhasilan proyek tersebut bukan hanya ditentukan oleh rampungnya pembangunan, tetapi juga kesiapan sistem pengelolaan setelah beroperasi.
"Kami menyambut baik pelaksanaan groundbreaking TPPAS Legok Nangka. Kami berharap pembangunan ini berjalan sesuai rencana, selesai tepat waktu, dan dapat mulai beroperasi tahun depan," ujar Hailuki di Soreang, Rabu (5/8/2026).
TPPAS Legok Nangka diproyeksikan mampu mengolah sekitar 450 ton sampah per hari dari Kabupaten Bandung. Jika dipadukan dengan optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah (TPS) Cicukang yang ditargetkan berkapasitas sekitar 500 ton per hari, maka sekitar 1.000 ton sampah harian dapat tertangani.
Sementara sisa volume sampah sekitar 800 ton per hari diharapkan dapat diolah melalui TPS 3R yang tersebar di desa dan kecamatan. Artinya, keberhasilan penanganan sampah tidak hanya bergantung pada TPPAS Legok Nangka, tetapi juga pada efektivitas sistem pengelolaan dari hulu hingga hilir.
"Dengan demikian, kurang lebih 1.000 ton sampah per hari sudah bisa tertangani. Sisanya sekitar 800 ton dapat dioptimalkan melalui TPS 3R di desa maupun kecamatan sehingga persoalan sampah di Kabupaten Bandung bisa ditangani secara efektif," katanya.
Meski optimistis, Hailuki mengingatkan tantangan terbesar justru akan dimulai ketika TPPAS Legok Nangka resmi beroperasi. Menurutnya, kapasitas pengolahan 450 ton per hari tidak akan berarti apabila pemerintah daerah gagal memastikan sampah dapat diangkut setiap hari.
Dia menyoroti kesiapan armada pengangkut, sumber daya manusia, hingga manajemen operasional yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Jangan sampai fasilitas modern telah berdiri, tetapi kapasitasnya tidak terpakai karena persoalan teknis di lapangan.
"Yang menjadi tantangan adalah bagaimana Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait mampu mengoptimalkan pengangkutan sekitar 450 ton sampah setiap hari ke TPPAS Legok Nangka. Jangan sampai fasilitasnya sudah siap, tetapi sampah tidak terangkut karena kendala teknis, baik armada, sumber daya manusia, maupun persoalan operasional lainnya," tegasnya.
Menurut Hailuki, investasi besar pada TPPAS Legok Nangka harus diiringi dengan penguatan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Evaluasi terhadap armada, penambahan infrastruktur pendukung, hingga penguatan TPS 3R perlu menjadi prioritas agar target pengurangan sampah benar-benar tercapai.
"Jangan sampai TPPAS Legok Nangka yang sudah dibangun justru tidak dimanfaatkan secara maksimal. Kami berharap fasilitas ini menjadi solusi nyata, bukan sekadar proyek besar yang belum mampu menjawab persoalan sampah di Kabupaten Bandung," ujarnya.
Di sisi lain, puluhan truk pengangkut sampah milik Pemerintah Kabupaten Bandung yang selama ini dioperasikan oleh Dinas Lingkungan Hidup banyak yang sudah tak layak pakai. Meski demikian, truk-truk yang seharusnya sudah 'dipensiunkan' itu tetap dioperasikan meski harus keluar masuk bengkel.
Editor : Doni Ramdhani


