Edukasi Tanggap Bencana: Langkah Tepat saat Darurat
WARGA Cingised belajar bersiap menghadapi bencana. Mereka mengenali jalur evakuasi dan cara menyelamatkan diri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Ada yang berbeda di Rusunawa Cingised, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Minggu (6/9) pagi. Warga tak hanya menjalani aktivitas seperti biasa. Mereka berkumpul mengikuti sebuah latihan yang kelak diharapkan menjadi bekal ketika keadaan darurat benar-benar datang.
Ya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung menggelar simulasi evakuasi mandiri di kawasan rusunawa tersebut. Warga dilibatkan secara langsung dalam setiap tahapan, mulai dari memahami situasi darurat hingga mengikuti jalur evakuasi dan menuju titik kumpul. Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari pembuatan film pendek bersama BPBD berjudul ‘Ada Apa di Cingised’.
Suasana simulasi berlangsung cukup hidup. Warga tampak antusias mengikuti arahan dan terlibat dalam setiap adegan. Bagi mereka, latihan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan kesempatan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan ketika bencana datang tanpa banyak waktu untuk berpikir.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung Didi Ruswandi mengatakan, kemampuan warga menyelamatkan diri merupakan salah satu kunci penting dalam mengurangi dampak bencana.
“Makin banyak warga Bandung yang punya kapasitas menyelamatkan diri, itu makin baik. Karena 95 persen orang selamat dari bencana, itu adalah kapasitas masyarakatnya,” ujar Didi dalam keterangan persnya, Minggu (6/9).
Karena itu, BPBD ingin kegiatan serupa menjangkau semakin banyak warga. Pengetahuan mengenai bencana, menurut Didi, tidak cukup hanya disampaikan melalui sosialisasi. Warga perlu memiliki pengalaman langsung agar tidak kebingungan ketika situasi darurat benar-benar terjadi.
Rusunawa Cingised dipilih karena terdapat titik temu antara kebutuhan pengelola rusun dan BPBD. Pengelola memiliki kewajiban membekali penghuni dengan pengetahuan keselamatan, sementara BPBD membutuhkan lingkungan yang siap menjadi mitra dalam membangun kapasitas masyarakat.
“Jadi ini benar-benar bertemu di dalam satu simpul,” katanya.
Didi menjelaskan, keselamatan warga saat bencana dipengaruhi setidaknya dua hal. Pertama adalah tingkat kerentanan lingkungan, terutama kualitas bangunan atau permukiman. Kedua adalah kapasitas masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat.
Keduanya tidak bisa dipisahkan. Bangunan yang kuat tetap membutuhkan penghuni yang tahu harus berbuat apa ketika terjadi guncangan. Sebaliknya, pengetahuan evakuasi akan sulit bekerja maksimal jika lingkungan tempat tinggal memiliki kerentanan tinggi.
Karena itu, simulasi menjadi penting. Warga tidak hanya mendengar penjelasan tentang jalur evakuasi, tetapi mencoba sendiri bagaimana bergerak ketika keadaan darurat dibayangkan terjadi. Dari latihan semacam itu, pengetahuan diharapkan berubah menjadi kebiasaan.
Kegiatan tersebut juga melibatkan UPT Rusunawa, UPT Puskesmas Rusunawa, mahasiswa dan tim dari STIKes Dharma Husada Bandung, serta sejumlah unsur pendukung lainnya.
Kolaborasi itu membuat simulasi tidak hanya berbicara tentang evakuasi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana berbagai pihak dapat mengambil peran ketika bencana terjadi. (gin)
Editor : Inilahkoran

