Menyiapkan Guru, Menyalakan Pembelajaran STEM
PEMBELAJARAN STEM tak hanya soal teori di kelas. Guru disiapkan menjadi penggerak agar siswa mendapat pengalaman belajar yang lebih relevan dan nyata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Belajar sains tidak selalu harus berhenti pada rumus dan teori. Ada ruang bagi siswa untuk bertanya, mencoba, merancang, lalu menemukan jawaban melalui proses yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ruang belajar seperti itulah yang ingin diperkuat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Program Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM).
Sebanyak 121 guru dari 43 sekolah disiapkan menjadi fasilitator nasional. Mereka nantinya menjadi penggerak yang membantu memperkuat kompetensi ribuan guru agar mampu menerapkan pembelajaran STEM di berbagai jenjang pendidikan.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan, penyebaran Program STEM saat ini dilakukan dengan membangun tim yang terdiri atas fasilitator nasional, fasilitator daerah, dan fasilitator UPT.
Tim tersebut diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu, sehingga pembelajaran tidak berjalan secara terpisah-pisah.
“Dengan pembekalan ini, guru diharapkan tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, inspiratif, dan berdampak bagi murid,” kata Nunuk dalam kegiatan Peluncuran Program STEM Nasional di PAUD Terpadu Kalirejo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (3/9).
Sebelum turun membagikan pengetahuan kepada guru lainnya, 121 calon fasilitator nasional tersebut terlebih dahulu menjalani rangkaian pelatihan sejak Januari hingga Juli.
Pelatihan tidak hanya berbicara tentang materi STEM. Para guru juga dibekali kemampuan mengembangkan learning management system (LMS), menyamakan persepsi mengenai penerapan pembelajaran STEM di setiap jenjang, hingga memahami pengelolaan kelas dan sistem manajemen pembelajaran.
Tahapan itu menjadi bekal sebelum mereka menjalankan peran yang lebih luas sebagai fasilitator. Mulai Agustus hingga September, para fasilitator nasional tersebut dijadwalkan melatih 1.636 guru dari 58 sekolah.
Komposisi peserta juga disusun agar pembelajaran STEM tidak hanya menjadi ruang bagi guru yang berlatar belakang matematika dan ilmu pengetahuan alam (MIPA). Guru dari latar belakang non-MIPA turut dilibatkan.
Pola tersebut diharapkan membuat pendekatan STEM berkembang sebagai pembelajaran lintas disiplin, bukan sekadar materi tambahan bagi mata pelajaran tertentu.
Kemendikdasmen juga menyiapkan berbagai jalur penguatan kompetensi. Selain fasilitator nasional dan daerah, tersedia pelatihan teknis, beasiswa micro-credential, serta lokakarya STEM lintas jenjang pendidikan. (gin)
Editor : Inilahkoran

