Topeng Cirebon Membuka Jendela Dunia

MUSEUM Topeng Cirebon bersiap membuka pintu dunia. Festival topeng internasional menjadi langkah awalnya.

Topeng Cirebon Membuka Jendela Dunia
MUSEUM TOPENG: Benda koleksi di Museum Topeng Cirebon. Disbudpar Kota Cirebon mengembangkan Museum Topeng Cirebon menjadi pusat kebudayaan yang memiliki jejaring internasional melalui Cirebon Mask Festival, November 2026.

Satu per satu topeng dari berbagai penjuru dunia kelak akan berdampingan dengan topeng-topeng Cirebon. Bukan sekadar menambah isi ruang pamer, kehadiran koleksi dari negara lain diharapkan membuka percakapan baru tentang budaya, karakter, dan tradisi yang hidup di balik sebuah topeng.

Gagasan itu tengah disiapkan Pemerintah Kota Cirebon melalui Cirebon Mask Festival yang akan digelar pada November 2026.

Festival tersebut menjadi bagian dari langkah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon mengembangkan Museum Topeng Cirebon. 

Museum yang selama ini menjadi ruang untuk mengenal seni topeng Cirebon itu diarahkan menjadi pusat kebudayaan dengan jejaring yang lebih luas, bahkan hingga tingkat internasional.

"Kami ingin Museum Topeng Cirebon ke depan tidak hanya berbicara tentang koleksi topeng Cirebon, tetapi bisa berkembang menjadi museum topeng internasional," kata Kepala Disbudpar Kota Cirebon Agus Sukmajaya di Cirebon, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (3/9).

Sejumlah negara telah menyatakan kesiapannya hadir dalam festival tersebut. Korea Selatan, Malaysia, Myanmar, dan Singapura telah mengonfirmasi keikutsertaan.

Para delegasi nantinya direncanakan membawa topeng khas dari negara masing-masing untuk dihibahkan kepada Pemerintah Kota Cirebon. Koleksi itu akan menjadi bagian dari perjalanan baru Museum Topeng Cirebon.

Bagi Agus, setiap topeng bukan hanya benda yang dipajang di balik kaca. Ada cerita, karakter, tradisi, dan cara sebuah masyarakat memandang kehidupan yang bisa dikenali dari setiap bentuknya.

Karena itu, bertambahnya koleksi dari berbagai negara diharapkan membuat museum menjadi ruang belajar yang lebih luas. Pengunjung tidak hanya mengenal keragaman topeng Cirebon, tetapi juga dapat melihat bagaimana tradisi topeng berkembang di berbagai belahan dunia. Gagasan tersebut sekaligus bertumpu pada kekayaan seni topeng Cirebon sendiri. 

Selama ini, masyarakat lebih akrab dengan lima wanda atau karakter utama, yakni Panji, Rumyang, Tumenggung, Kelana, dan Samba. Namun, hasil inventarisasi menunjukkan kekayaan karakter topeng Cirebon jauh lebih besar, mencapai lebih dari 750 jenis.

Jumlah tersebut menunjukkan, topeng Cirebon menyimpan keragaman yang tidak selalu terlihat dari lima karakter yang paling dikenal.

"Kalau di daerah lain wayang wong menggunakan orang yang wajahnya dirias atau dilukis sesuai karakter, di Cirebon wayang wong menggunakan topeng sebagai representasi karakter," katanya.

Topeng kemudian bukan hanya menjadi pelengkap pertunjukan. Ia menjadi wajah dari karakter yang dimainkan, sekaligus bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Potensi itulah yang ingin terus dirawat melalui Museum Topeng Cirebon. Museum tersebut resmi berdiri pada 2 September 2024 dan menjadi museum pertama milik Pemerintah Daerah Kota Cirebon. 

Ketika pertama dibuka, koleksinya sekitar 130 benda, terdiri atas replika wayang wong serta topeng lama milik keluarga Nani dan Subrata. Dalam perjalanan berikutnya, jumlah koleksi justru berkembang cukup pesat.

"Dalam satu tahun kita mendapatkan tambahan sekitar 500 koleksi. Ini menunjukkan bahwa museum terus berkembang," ujar Agus.

Pertumbuhan koleksi itu berjalan beriringan dengan minat masyarakat. Selama dua tahun beroperasi, Museum Topeng Cirebon telah mencatat lebih dari 18.000 kunjungan.

Angka tersebut menjadi modal bagi Disbudpar untuk melihat museum bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda lama. Museum dapat menjadi titik temu antara sejarah, seni pertunjukan, pariwisata, dan masyarakat. Karena itu, pengembangan museum tidak berhenti pada penambahan koleksi.

Disbudpar juga menjajaki pertunjukan rutin di kawasan museum bersama sejumlah mitra. Pertunjukan tersebut diharapkan membuat pengalaman pengunjung lebih utuh, ketika benda yang selama ini hanya dilihat di ruang pamer dapat kembali menemukan konteksnya melalui seni pertunjukan.

"Kami juga menjajaki pertunjukan rutin di kawasan museum bersama sejumlah mitra untuk memperkuat keterkaitan antara museum, seni pertunjukan, dan pariwisata," ucap dia.

Cirebon Mask Festival nantinya menjadi salah satu pintu menuju gagasan tersebut. Ketika topeng dari Cirebon bertemu dengan topeng dari Korea Selatan, Malaysia, Myanmar, atau Singapura, museum tidak lagi hanya bercerita tentang satu daerah, tapi menjadi ruang pertemuan berbagai cerita kebudayaan. (gin)


Editor : Inilahkoran