Efisiensi Anggaran Bikin BRT Metro Jabar Trans “Ngos-ngosan”, Penambahan Rute Masih Abu-abu

Moda transportasi publik bus rapid transit (BRT) Metro Jabar Trans (MJT) tengah berada dalam tekanan berat. Keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi membuat pengembangan layanan MJT praktis berjalan di tempat, bahkan untuk sekadar penambahan rute.

Efisiensi Anggaran Bikin BRT Metro Jabar Trans “Ngos-ngosan”, Penambahan Rute Masih Abu-abu
Moda transportasi publik bus rapid transit (BRT) Metro Jabar Trans (MJT) tengah berada dalam tekanan berat. Keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi membuat pengembangan layanan MJT praktis berjalan di tempat, bahkan untuk sekadar penambahan rute.

INILAHKORAN.ID – Moda transportasi publik bus rapid transit (BRT) Metro Jabar Trans (MJT) tengah berada dalam tekanan berat. Keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi membuat pengembangan layanan MJT praktis berjalan di tempat, bahkan untuk sekadar penambahan rute.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat, Diding Abidin mengakui, hingga kini belum ada rencana konkret penambahan rute baru. Operasional MJT masih bertumpu pada enam rute eksisting yang melayani kawasan Bandung Raya, yakni Leuwipanjang–Soreang, Kota Baru Parahyangan–Alun-Alun Bandung, Baleendah–BEC (Jalan Purnawarman), Leuwipanjang–Dago, Dipatiukur–Jatinangor, serta Leuwipanjang–Majalaya.

Di tengah keterbatasan tersebut, Dishub Jabar tetap menyimpan harapan agar pada 2026 mendatang layanan MJT dapat diperluas, baik dari sisi rute maupun jumlah armada, demi meningkatkan kualitas transportasi publik perkotaan.

"Ini mungkin di masa ini, tetap melakukan rute seperti biasa, walaupun memang keinginan kita di tahun depan, 2026 itu mau ada tambahan rute termasuk armada," ujar Diding saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Senin 15 Desember 2025.

Namun harapan tersebut belum disertai kepastian anggaran. Diding menyebut kondisi fiskal saat ini masih membatasi ruang gerak pemerintah provinsi dalam mengoptimalkan layanan MJT.

Kondisi serupa juga terjadi sepanjang tahun ini, di mana keterbatasan anggaran membuat pengembangan BRT MJT belum menunjukkan kemajuan signifikan.

"Namun demikian mohon maaf, kalau tidak salah sampai saat ini kita anggaran kita kan masih terbatas ya. Kita akan coba bertahan dan melayani tahun ini. Kalau memungkinkan kita tambah rute layanan," ucapnya.

Sebelumnya, MJT ditargetkan rampung penuh di 2027. Kepala Dishub Jabar Dhani Gumelar menuturkan, ada 21 rute untuk MJT ini. 

"Saat ini pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota di wilayah Cekungan Bandung sedang mempersiapkan BRT di berbagai aspek. Dimulai dari regulasi, rencana operasional dan persiapan infrastruktur," ujar Dhani dikutip Jumat 25 Juli 2025 silam.

Targetnya lanjut dia, perencanaan pembangunan yang dimulai pada 2022 lalu ini diharapkan rampung di 2027 mendatang.

"Tahapan pembangunan, didasarkan pada penyelesaian dokumen perencanaan, yang disusun oleh konsultan yang ditunjuk oleh Kemenhub, yang kemudian dilanjutkan untuk pembangunan infrastruktur yang terdiri dari depo, jalur khusus untuk bis, drainase fasilitas pejalan kaki dan fasilitas pendukung lainnya," ucapnya.

Lebih lanjut Dhani menjelaskan, pada MJT ini juga disiapkan jalur khusus sepanjang 21 kilometer di Jalan Ahmad Yani-Ibrahim Adjie-Terusan Jakarta-Jalan Sudirman-Jalan Rajawali.

Jalur khusus ini dibuat, untuk menyiasati kondisi jalanan di Kota Bandung, supaya tidak mengganggu pengguna jalan lain.

"Rute BRT direncanakan akan beroperasional secara keseluruhan pada 2027 sebanyak 21 rute. Untuk jalur khususnya sendiri akan dibangun sepanjang kurang lebih 21 km," kata dia.

Terkait alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi Depo MJT, Dhani mengaku saat ini prosesnya tengah masuk dalam tahap finalisasi kajian di Kementerian Perhubungan.

"Untuk tahap pengosongan juga masih dalam tahap pengkajian oleh konsultan yang ditunjuk oleh Kemenhub dan kapannya, masih menunggu finalisasi hasil kajian dan akan ditindaklanjuti dengan regulasi terkait terminal tipe A di Kemenhub," tandasnya.***


Editor : JakaPermana