El Nino Ancam Produksi Gabah di Bandung Barat, Turun Hingga 15 Persen

Produklsi gabah di Kabupaten Bandung Barat terancam turun lantaran dampak dari El Nino yang menyebabkan kemarau panjang dan ekstrem

El Nino Ancam Produksi Gabah di Bandung Barat, Turun Hingga 15 Persen
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat, Lukmanul Hakim sebut ancaman dampak fenomena El Nino di wilayahnya.

INILAHKORAN.ID – Fenomena El Nino yang berpotensi memicu kemarau panjang dan ekstrem diprediksi menurunkan produksi gabah di Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga kisaran 10–15 persen tahun ini. 

Ancaman ini muncul seiring pengalaman serupa yang pernah terjadi pada 2023 silam, di mana kekeringan membuat hasil panen turun 5–7 persen dari target tahunan.

Berdasarkan catatan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) KBB, lahan pertanian yang paling rentan terdampak, yakni sawah tadah hujan tanpa jaringan irigasi memadai. 

Pasalnya, jika air semakin langka, risiko gagal panen atau puso serta penurunan mutu hasil panen akan makin tinggi.

Hingga awal Juni 2026, kondisi produksi masih cukup terkendali. Tercatat, selama Januari–Mei 2026, KBB telah mencetak produksi 112.351 ton Gabah Kering Panen (GKP), setara dengan 60.615 ton beras atau tercapai 49,4 persen dari target tahun ini. 

"Angka ini dianggap belum cukup aman jika kemarau berlangsung lebih lama dan lebih parah dari perkiraan," kata Kepala DKPP KBB, Lukmanul Hakim, Selasa (16/6/2026).

Lukamanul menjelaskan, kekeringan tidak hanya mengurangi jumlah panen, namun juga merusak kualitas gabah. “Di lahan yang masih bisa dipanen, kandungan gabah hampa meningkat karena kekurangan air, sehingga nilai jualnya ikut menurun,” ucapnya.

Lukmanul menyebut, pihaknya mencatat ada 2.302 hektare lahan pertanian berisiko terdampak kekeringan. Untuk mengatasi hal itu, DKPP menyiapkan serangkaian langkah mulai dari sisi infrastruktur hingga pola budidaya. 

"Sebanyak 122 unit pompa air telah disalurkan, dengan usulan tambahan 43 unit lagi guna mengairi 825 hektare lahan kritis," sebutnya.

Selain bantuan peralatan, petani didorong beralih ke varietas tahan kekeringan seperti Inpago dan Inpari 42, serta mendiversifikasi tanaman ke palawija. 

"Pendampingan dilakukan oleh penyuluh pertanian, pengawas hama, hingga unsur TNI dan Polri agar langkah antisipasi berjalan efektif," ucapnya.

Tak cuma itu, pihaknya juga telah menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) sebagai jaring pengaman. Ia mengingatkan petani untuk tidak memaksakan tanam jika air terbatas. 

“Sesuaikan pola tanam dan alihkan sebagian ke komoditas yang lebih hemat air demi menghindari kerugian lebih besar,” ujarnya.


Editor : Ahmad Sayuti