Ence Setiawan Sebut KBM SDN Kencana 1 Kurang Elegan dan Kurang Maksimal, Ini Sarannya
Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor Ence Setiawan menyampaikan, kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SDN Kencana 1 sangat tidak elegan karena menggunakan tenda darurat. Dirinya juga menuturkan proses belajar mengajar di sekolah dasar tersebut menjadi sorotan beberapa waktu lalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor Ence Setiawan menyampaikan, kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SDN Kencana 1 sangat tidak elegan karena menggunakan tenda darurat. Dirinya juga menuturkan proses belajar mengajar di sekolah dasar tersebut menjadi sorotan beberapa waktu lalu.
"Saya setuju ketika pembangunan sekolah belum selesai belajar tetap berjalan. Namun demikian, saya juga sangat menyayangkan, kenapa proses belajar mengajar di SDN Kencana 1 tidak mencari jalan alternatif yang lain, selain belajar menggunakan tenda," ungkap Ence Setiawan, Senin 11 Agustus 2025.
Ence Setiawan menerangkan, agar KBM di SDN Kencana 1 menyewa gedung atau meminjam bangunan sekolah lainnya untuk memaksimalkan proses belajar mengajar.
"Seharusnya menyewa gedung yang layak untuk bisa di pakai belajar, jangan pake tenda seperti sekarang. Karena tidak elok dipandang dan saya kira pembelajaran di tenda seperti ini tidak akan maksimal," terangnya.
Diketahui, sebanyak 284 siswa SDN Kencana 1 Kota Bogor terpaksa harus menjalani proses KBM di tenda darurat dan beralaskan tanah. Hal itu dikarenakan bangunan sekolah yang terletak di Kecamatan Tanahsareal tengah dalam tahap revitalisasi perbaikan. Perlu diketahui ratusan siswa tersebut belajar di tenda tanpa alas lantai, sejak bulan Juli 2025.
Guru SDN Kencana 1 Kota Bogor Frida Nur Afifah mengatakan, ada empat rombel siswa mulai kelas 1 sampai kelas 4 yang melaksanakan belajar mengajar di tenda darurat.
"Ya, sedang ada revitalisasi bangunan sekolahnya, jadi kami melaksanakan kegiatan belajar mengajar di tenda ini. Dan yang belajar disini kelas 1 sampai kelas 4," tuturnya.
Frida menjelaskan, ada dua tenda yang terpasang di tanah kosong itu, dan kedua tenda tersebut dibagi menjadi empat rombongan belajar (rombel).
"Dan kondisi kelas darurat ini kita sekat menggunakan bekas spanduk, dimana setiap rombel berisi 28 siswa," jelasnya.
Frida memaparkan, jadi empat rombel tersebut dibuat menjadi dua shift, untuk kelas 1, 2 dan sebagian kelas 3 dari pagi hingga siang. Kemudian untuk sebagian lagi kelas 3 hingga kelas 4 dari siang sampai sore. Jika cuaca kurang mendukung, untuk siswa yang masuk siang dipulangkan lebih cepat.
"Jadi yang pulang sore, kalau cuaca kurang mendukung dipulangkan lebih cepat," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani


