Erupsi Anak Krakatau Batasi Aktivitas
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Rizki Mauludi
INILAH, Bogor - Aktivitas warga Kota Bogor untuk sementara harus berjalan dengan lebih hati-hati. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau membuat pemerintah kota mengambil sejumlah langkah pembatasan, mulai dari pembelajaran jarak jauh hingga membatasi kegiatan masyarakat.
Keputusan itu diambil setelah rapat koordinasi dampak abu vulkanik yang dipimpin Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin di Balai Kota Bogor, Minggu (6/9) malam.
Hasil pemantauan kualitas udara yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) University menunjukkan kondisi Kota Bogor berada pada level sedang dengan skor 83. Dalam indikator warna, kondisi tersebut berada pada level biru. Artinya, aktivitas masyarakat masih dapat berlangsung, tetapi dengan sejumlah pembatasan.
"Saat ini hasil pemantauan kualitas udara yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) University menunjukkan bahwa Kota Bogor berada di level sedang dengan skoring 83. Sedang itu kalau di warna indikatornya biru. Maka dalam status sedang, masyarakat bisa tetap beraktivitas dengan catatan dibatasi," kata Jenal, Senin (7/9).
Salah satu langkah yang langsung diterapkan adalah mengubah sementara pola pembelajaran. Sekolah dan lembaga pendidikan di Kota Bogor melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada 7 dan 8 September, mulai dari jenjang pendidikan paling bawah hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kebijakan tersebut merujuk pada Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor KL.01.02/A/17765/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat Terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pemkot Bogor juga berpedoman pada Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 119 dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.
"Pun merujuk pula pada SE Gubernur Jawa Barat Nomor 119 dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat. Untuk itu, rakor mengusulkan beberapa masukan dari OPD terkait. Pertama, tentang teknis PJJ yang akan dilakukan di Kota Bogor pada tanggal 7 dan 8 September. Dimulai dari tingkat pendidikan yang paling bawah, termasuk PKBM," paparnya.
Selama dua hari PJJ berlangsung, petugas kebersihan sekolah diminta melakukan pembersihan secara mandiri. Pemerintah kemudian menunggu perkembangan kualitas udara hingga Senin sore sebelum menentukan langkah berikutnya.
"Selama dua hari itu, pihak petugas kebersihan sekolah secara mandiri melakukan pembersihan. PJJ baru kami terapkan dua hari dengan menunggu hasil kualitas udara Senin sore," tambah Jenal.
Perlindungan juga disiapkan bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah. Dinas Kesehatan Kota Bogor menyiapkan 250.000 masker medis untuk kelompok yang dinilai lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
Sasarannya mencakup anak-anak, lansia, pekerja lapangan, hingga masyarakat dengan kerentanan penyakit pernapasan.
Langkah lain dilakukan di ruang-ruang publik. Pemkot Bogor melakukan penyemprotan di jalan-jalan protokol, fasilitas publik, pedestrian, hingga tanaman di sepanjang jalan. (gin)
Editor : Inilahkoran

