Farhan : Persoalan Pangan di Kota Bandung Ada pada Distribusi dan Preferensi Konsumen

Ancaman ketahanan pangan di Kota Bandung tidak semata dipicu ketersediaan stok beras, melainkan juga perubahan iklim, pola distribusi dan permainan spekulan.

Farhan : Persoalan Pangan di Kota Bandung Ada pada Distribusi dan Preferensi Konsumen
Ancaman ketahanan pangan di Kota Bandung tidak semata dipicu ketersediaan stok beras, melainkan juga perubahan iklim, pola distribusi dan permainan spekulan.

INILAHKORAN.ID - Ancaman ketahanan pangan di Kota Bandung tidak semata dipicu ketersediaan stok beras, melainkan juga perubahan iklim, pola distribusi dan permainan spekulan di pasar. Di tengah situasi tersebut, perbedaan jenis beras yang beredar ikut memengaruhi stabilitas harga dan konsumsi masyarakat.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, dampak perubahan iklim paling cepat dirasakan pada komoditas hortikultura terutama sayuran. “Kalau perubahan iklim, yang paling saya khawatirkan itu pangan terutama sayuran. Sayuran itu kalau lagi kemarau, bisa hilang, habis,” kata Farhan, Sabtu (20/6/2026).

Meski demikian dia menyampaikan, komoditas beras secara umum ketersediaannya masih aman. Perum Bulog telah menjamin pasokan beras yang beredar di masyarakat. “Kalau beras sih Bulog itu sudah menjamin, pasti bisa,” ucapnya.

Dia menjelaskan, beras di pasaran terbagi ke dalam tiga kategori yaitu beras SPHP dari Bulog, beras premium dan beras khusus. Beras SPHP disebut selalu tersedia, namun memiliki kualitas standar sehingga tidak selalu menjadi pilihan utama konsumen.

Sementara itu, beras premium banyak ditemukan di pasar modern dengan harga yang masih relatif terjangkau dan menjadi jenis yang paling banyak diminati masyarakat. “Yang premium ini permintaannya paling tinggi, karena terasa lebih enak,” ujar dia.

Adapun beras khusus, merupakan kategori dengan harga paling tinggi yang bisa mencapai di atas Rp20.000 per kilogram. Namun secara keseluruhan, stok beras tetap mencukupi di pasar.

Farhan menilai, persoalan utama justru terjadi pada distribusi dan perilaku pasar terutama pada segmen beras yang paling banyak dikonsumsi masyarakat. Ada ketidakseimbangan, antara ketersediaan dan jenis yang paling diminati.

“Secara statistik, beras itu ada. Cuma bukan beras yang rata-rata disukai oleh warga,” jelasnya.

Dia juga menyoroti adanya praktik spekulasi yang dilakukan sebagian pelaku pasar, dengan menahan stok untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. “Ini sering dipermainkan oleh para spekulan, terutama yang melakukan penimbunan. Mereka menunggu harga naik baru dilepas, bahkan di atas harga eceran tertinggi,” ujar dia.

Menurutnya, pengawasan menjadi kunci menjaga stabilitas pangan. Khususnya untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat mengganggu harga di pasar. “Kontrolnya adalah tidak boleh ada penimbunan,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana