Farhan Soroti Kesenjangan Pendidikan dan Kerja di Kota Bandung

Tingkat pendidikan warga Kota Bandung yang terus meningkat, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja.

Farhan Soroti Kesenjangan Pendidikan dan Kerja di Kota Bandung
Tingkat pendidikan warga Kota Bandung yang terus meningkat, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja.

INILAHKORAN.ID - Tingkat pendidikan warga Kota Bandung yang terus meningkat, belum sepenuhnya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan kerja.

Kondisi itu, memunculkan kesenjangan antara kualitas sumber daya manusia dan daya serap tenaga kerja di daerah tersebut.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, persoalan tersebut masih menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi. Meskipun tingkat pendidikan masyarakat sudah tergolong tinggi, hal itu belum diikuti dengan tersedianya pekerjaan yang sesuai.

“Lapangan pekerjaan ini, dianggap kita masih belum bisa menemukan link and match antara tingkat pendidikan yang sudah tinggi. Warga Kota Bandung, tingkat pendidikannya sudah jauh di atas rata-rata. Sudah mendekati 12 tahun, dan kesempatan sekolahnya mendekati 15 tahun. Tetapi tingkat pengangguran terbukanya masih 7,44 persen,” kata Farhan, Sabtu (18/4/2026).

Menurut dia, angka tersebut menunjukkan tingkat pengangguran di Kota Bandung masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Barat. Sehingga, menjadi indikasi adanya persoalan struktural dalam penyerapan tenaga kerja.

“Jadi artinya apa? Ada link and match yang belum jalan, antara tingkat pendidikan yang tinggi dengan jumlah lapangan pekerjaan,” ucapnya.

Farhan menjelaskan, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang belum sesuai harapan. Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung, saat ini berada di angka 5,29 persen. Padahal idealnya, dapat menembus lebih dari 6 persen bahkan kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai sekitar 7 persen.

“Kelihatannya seperti besar ya? Enggak. Karena sebetulnya, harusnya kita bisa kembali ke masa sebelum Covid yang mencapai angka 7 persen tingkat laju pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.

Pihaknya menyebut, ada dua faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Pertama, sangat rendahnya pertumbuhan sektor industri pengolahan. Kedua, kontribusi sektor transportasi yang masih berada di bawah rata-rata.

“Laju pertumbuhan sektor industri pengolahan itu hanya 0,01 persen. Dan kontribusi sektor transportasi itu di bawah rata-rata,” jelasnya.

Menurut Farhan, salah satu faktor yang memengaruhi sektor transportasi adalah belum dibukanya kembali bandara yang berdampak langsung pada sektor perdagangan khususnya ritel dan industri fashion.

“Karena bandara belum dibuka. Itu kuncian pisah. Sehingga ekonomi kita khususnya retail itu pertumbuhan yang kecil sekali,” ujar dia.

Dia mencontohkan, penurunan aktivitas perdagangan di pusat-pusat fashion seperti Pasar Baru terjadi karena berkurangnya pembeli dari luar negeri. Kondisi tersebut, kemudian berdampak berantai ke sektor produksi.

“Maka supply chain ke belakangnya juga terpengaruh. Konveksi menurun, packaging menurun, distribusi menurun, suplai kancing, suplai benang, suplai kain semua menurun dan lapangan pekerjaan menurun,” tegasnya.

Farhan menegaskan, keterkaitan antar sektor ekonomi tersebut sangat erat sehingga pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh. Termasuk dengan mendorong kembali daya tarik Kota Bandung, sebagai pusat industri fashion.

“Nah ini berhubungan sangat erat. Makanya kita harus berjuang terus, walaupun bandara belum diaktifkan. Kita bisa menarik lebih banyak lagi pembeli-pembeli di Kota Bandung, untuk membeli produk-produk fashion Kota Bandung,” tandas dia.***


Editor : JakaPermana