Farhan: Tak Semua Informasi Digital Bisa Disebut Produk Jurnalistik

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengingatkan, tidak semua informasi di era digital merupakan produk jurnalistik dan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Farhan: Tak Semua Informasi Digital Bisa Disebut Produk Jurnalistik
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyoroti tantangan jurnalisme di era digital dalam konferensi PWI Jawa Barat di Kota Bandung.

INILAHKORAN.ID-Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta menganggap seluruh informasi yang beredar di era digital sebagai produk jurnalistik. Perkembangan teknologi memang membuat siapa pun dapat memproduksi dan menyebarkan informasi, tetapi aspek akuntabilitas tetap harus menjadi perhatian.

Hal tersebut disampaikan Farhan saat menanggapi pelaksanaan Konferensi PWI Jawa Barat di Kota Bandung, Rabu (12/8/2026). Menurutnya, forum tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan PWI Jawa Barat yang solid, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat jurnalisme yang sehat.

“Memang sejak akhir tahun lalu, niat kita adalah menjadikan Kota Bandung sebagai tuan rumah dari konferensi ini. Mudah-mudahan konferensi ini bisa melahirkan kepemimpinan PWI Jawa Barat yang solid, yang bisa mempersatukan dan meningkatkan kembali jurnalisme yang sehat untuk Jawa Barat,” kata Farhan.

PWI Diminta Perkuat Kapasitas Jurnalis

Farhan menilai Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai organisasi profesi memiliki peran penting dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas jurnalis.

Ia berharap PWI tetap menjadi wadah utama bagi pengembangan profesionalisme wartawan di Jawa Barat, terutama di tengah perubahan ekosistem informasi yang berlangsung sangat cepat.

“Kami berharap, PWI ini organisasi profesi. Nah, sebagai organisasi profesi tetap menjadi organisasi induk bagi peningkatan kapasitas dan kualitas para jurnalis di Jawa Barat,” ucapnya.

Menurut Farhan, perkembangan teknologi digital juga membuat praktik jurnalistik mengalami perubahan signifikan. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai arti dan fungsi jurnalisme perlu terus dikaji agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Saya kira bagaimanapun juga, kita harus melakukan yang namanya peninjauan kembali arti jurnalisme dan dekonstruksi dari sisi jurnalisme itu sendiri,” ujarnya.

Era Digital Membuat Siapa Pun Bisa Produksi Informasi

Farhan mengatakan tantangan dunia jurnalistik saat ini semakin kompleks karena masyarakat memiliki akses yang sangat mudah untuk membuat dan menyebarkan informasi.

Berbagai platform digital memungkinkan seseorang memproduksi konten dan menyampaikannya langsung kepada publik tanpa melalui proses jurnalistik konvensional.

“Karena sekarang dalam era digital ini ada tantangan yang sangat berat, di mana proses jurnalistik yang dulu dengan yang sekarang sudah jauh berbeda. Karena sekarang orang bisa jadi jurnalis dengan sendirinya,” jelasnya.

Namun, menurut Farhan, kemampuan membuat dan menyebarkan informasi tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai jurnalis.

Hal yang paling penting adalah bagaimana informasi tersebut diproses, diverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Nah pertanyaannya gini, apakah bisa dipertanggungjawabkan atau tidak? Kan semua harus diolah,” tuturnya.

Farhan Tetap Percaya pada Profesi Jurnalis

Meski ekosistem informasi mengalami perubahan besar, Farhan mengaku tetap memiliki kepercayaan kuat terhadap profesi jurnalis.

Ia menilai jurnalisme tetap memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi karena berperan menyediakan informasi yang dapat menjadi dasar bagi masyarakat dalam memahami berbagai persoalan publik.

“Sangat. Saya adalah orang yang sangat percaya pada jurnalisme,” tegasnya.

Farhan menambahkan, keyakinannya terhadap profesi jurnalis bukan semata-mata karena dua anggota keluarganya berprofesi sebagai jurnalis.

Menurutnya, jurnalisme merupakan ilmu yang ditopang oleh profesi dan memiliki posisi strategis sebagai salah satu pilar demokrasi di Indonesia.

“Bukan hanya karena ada dua orang anggota keluarga saya yang juga jurnalis, tetapi juga saya percaya bahwa jurnalisme adalah sebuah ilmu yang didukung oleh sebuah profesi yang menjadi salah satu pilar dari kekuatan demokrasi di Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Farhan berharap Konferensi PWI Jawa Barat dapat menjadi momentum memperkuat organisasi sekaligus menjawab tantangan profesi jurnalistik di tengah perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, peningkatan kapasitas dan kualitas jurnalis menjadi semakin penting agar jurnalisme tetap mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya sebagai salah satu pilar demokrasi.***


Editor : JakaPermana