Financial Times Soroti Dedi Mulyadi, Popularitasnya Mulai Jadi Perhatian Internasiona

Financial Times menyoroti popularitas Dedi Mulyadi melalui media sosial dan kemunculan namanya dalam dinamika politik menuju Pilpres 2029.

Financial Times Soroti Dedi Mulyadi, Popularitasnya Mulai Jadi Perhatian Internasiona
Financial Times menyoroti popularitas Dedi Mulyadi melalui media sosial dan kemunculan namanya dalam dinamika politik menuju Pilpres 2029.

INILAHKORAN.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mulai mendapat perhatian media internasional seiring meningkatnya popularitasnya di tingkat nasional.

Media bisnis asal Inggris, Financial Times (FT), secara khusus mengulas fenomena Dedi Mulyadi dalam laporan berjudul “Is this Indonesia’s next president?” yang terbit pada 21 September 2026.

Dalam laporannya, FT menyoroti aktivitas Dedi di media sosial sebagai salah satu faktor yang membentuk citra dan pengenalannya di tengah masyarakat.

Hampir setiap hari, aktivitas Dedi sebagai gubernur dipublikasikan melalui media sosial. Mulai dari kunjungan ke tengah masyarakat, merespons persoalan warga, menjelaskan kebijakan pemerintah hingga memberikan bantuan, aktivitas tersebut dikemas menjadi konten digital.

Pola komunikasi itu kemudian membuat Dedi mendapat julukan “Content Governor”. FT mencatat, aktivitas tersebut ikut memperluas pengenalan Dedi dari Jawa Barat ke tingkat nasional.

Gaya komunikasi Dedi juga disebut berbeda dari pola komunikasi yang lazim digunakan sebagian elite politik. Ia kerap tampil langsung di tengah masyarakat, termasuk mendatangi pasar, warung dan tempat makan untuk berbincang dengan warga.

FT turut menyoroti latar belakang Dedi sebelum terjun ke dunia politik. Dalam laporan tersebut, Dedi disebut pernah menjadi pengemudi ojek dan penjual layang-layang.

Citra kedekatan dengan masyarakat antara lain tercermin dari kesaksian Raty, pedagang pasar berusia 60 tahun di Bandung, yang mengaku rutin mengikuti konten Dedi melalui YouTube.

“Dia orang yang sangat baik. Bagi saya, dia seperti malaikat yang berjalan di bumi,” kata Raty sebagaimana dikutip FT.

Namun, eksposur digital Dedi juga mendapat sorotan kritis. FT mencatat adanya pandangan bahwa frekuensi produksi konten yang sangat tinggi berpotensi membuat aktivitas media sosialnya terlihat lebih menonjol dibandingkan pekerjaannya sebagai kepala daerah.

Nama Dedi Mulyadi Dikaitkan dengan Pilpres 2029

Sorotan FT tidak hanya terkait aktivitas Dedi di media sosial. Laporan tersebut juga membahas munculnya nama Dedi dalam pembicaraan politik menuju Pilpres 2029.

FT mengutip hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi Mulyadi memperoleh dukungan 35 persen, sedangkan Prabowo Subianto 14,5 persen.

Dalam simulasi dua nama yang sama-sama diuji SMRC, Dedi memperoleh 59 persen dan Prabowo 28,3 persen. Angka tersebut merupakan hasil survei pada periode tersebut dan tidak menggambarkan hasil pemilu yang akan datang.

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani juga menjelaskan kepada FT mengenai tingkat pengenalan Dedi secara nasional serta faktor persepsi publik terhadap kepedulian dan empati yang dinilai berkontribusi terhadap penerimaan terhadap figur tersebut.

Pengamat Lembaga Survei Indonesia Djayadi Hanan turut dikutip FT untuk menjelaskan karakter komunikasi Dedi. Menurutnya, pola interaksi Dedi dengan masyarakat berbeda dengan komunikasi elite politik yang lebih banyak berlangsung dalam forum formal.

Dedi lebih sering memperlihatkan aktivitasnya ketika berhadapan langsung dengan masyarakat dan persoalan di lapangan.

Popularitas Bukan Satu-satunya Faktor

Meski namanya telah muncul dalam sejumlah survei terkait Pilpres 2029, Dedi Mulyadi belum menyatakan secara terbuka keinginan untuk maju sebagai calon presiden.

FT mencatat, apabila Dedi nantinya masuk ke arena Politik Nasional, popularitas yang dibangun melalui media sosial bukan satu-satunya aspek yang akan menjadi perhatian.

Rekam jejak pemerintahan dan kebijakan yang pernah digagas juga dapat menjadi bahan penilaian publik. FT menyinggung sejumlah kebijakan Dedi yang sebelumnya memunculkan perdebatan, termasuk penanganan anak bermasalah melalui lingkungan militer serta gagasan mengenai vasektomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah penerima bantuan pemerintah.

Deni Irvani mengatakan kepada FT bahwa kekuatan personal Dedi perlu berjalan beriringan dengan rekam kebijakan apabila dirinya benar-benar berniat masuk ke kontestasi nasional.

“Kalau dia berniat maju, menonjolkan sisi personal saja tidak akan cukup. Publik pada akhirnya akan menilai berdasarkan kebijakannya,” kata Deni Irvani kepada FT.

Laporan Financial Times tersebut menunjukkan bahwa aktivitas dan popularitas Dedi Mulyadi kini mendapat perhatian di luar Indonesia. Namun, Pilpres 2029 masih berada beberapa tahun ke depan dan Dedi sendiri belum menyatakan keputusan untuk maju sebagai calon presiden.

Karena itu, perkembangan popularitasnya saat ini lebih tepat dibaca sebagai bagian dari dinamika politik nasional yang masih dapat berubah menjelang kontestasi 2029.***


Editor : JakaPermana