Gagasan Baru Halal Hijau

EKONOMI tak hanya harus tumbuh, tetapi berkelanjutan. BAIC 2026 Unisba mendorong ekonomi halal hijau dan inovasi.

Gagasan Baru Halal Hijau
RANGKAIAN MILAD: Unisba kembali menghadirkan forum akademik internasional melalui The 9th Bandung Annual International Conference (BAIC 2026). Memasuki gelaran ke-9, konferensi yang berlangsung di Oakwood Merdeka Bandung, Kamis (10/9), ini mengangkat tema “Green Halal Economy and Innovation: Advancing Circularity and Community Resilience” sebagai bagian dari rangkaian Milad ke-68 Unisba.

Pertumbuhan ekonomi tak lagi cukup diukur dari seberapa banyak angka yang bertambah. Ketika perubahan iklim, krisis sumber daya, ketimpangan ekonomi, dan perkembangan teknologi datang bersamaan, cara manusia membangun masa depan pun dituntut untuk berubah.

Gagasan itu mengemuka dalam The 9th Bandung Annual International Conference (BAIC) 2026 yang digelar Universitas Islam Bandung (Unisba) di Oakwood Merdeka Bandung, Kamis (10/9).

Memasuki penyelenggaraan tahun kesembilan, BAIC mengangkat tema Green Halal Economy and Innovation: Advancing Circularity and Community Resilience, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-68 Unisba.

Tema tersebut membawa satu pesan penting: pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan lingkungan dan manfaat bagi masyarakat.

Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Dr Asnita Frida B. R. Sebayang, S.E., M.Si., mengatakan tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks.

Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, ketimpangan ekonomi hingga laju perkembangan teknologi membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan.

“Pertemuan kedua perspektif ini membuka peluang untuk membangun Ekonomi Halal Hijau yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ekonomi halal selama ini kerap dipahami sebatas persoalan status halal sebuah produk. Padahal, menurut Asnita, konsep tersebut memiliki cakupan yang lebih luas, termasuk etika, keadilan, keamanan, kemanfaatan dan tanggung jawab.

Sementara ekonomi hijau membawa perhatian pada bagaimana sumber daya digunakan secara efisien sekaligus bagaimana lingkungan tetap terjaga.

Ketika keduanya dipertemukan, muncul ruang baru yang disebut Ekonomi Halal Hijau. Sebuah pendekatan yang berusaha menempatkan kepentingan ekonomi, manusia, dan lingkungan dalam satu tarikan napas.

Gagasan itu kemudian berlanjut pada pentingnya mengubah pola ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular. Dalam sistem linear, sumber daya digunakan, produk dikonsumsi, lalu berakhir sebagai limbah. Ekonomi sirkular berupaya mempertahankan material, produk, dan sumber daya agar dapat digunakan selama mungkin.

Dalam perspektif Islam, perubahan tersebut dinilai sejalan dengan prinsip amanah dan khalifah fil ardh, yakni tanggung jawab manusia untuk menjaga sekaligus mengelola bumi.

Bagi Unisba, gagasan itu tidak berhenti sebagai pembahasan akademik. Perguruan tinggi memiliki ruang untuk menerjemahkannya menjadi penelitian, inovasi, hingga pengabdian yang menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. (gin)


Editor : Inilahkoran