Harga Kepokmas Cimahi Meroket Jelang Nataru 2025-2026, Pedagang Duga Imbas SPPG dan Cuaca Buruk
Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026, harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat (Kepokmas) di pasar tradisional Kota Cimahi mulai merangkak naik bahkan melonjak tajam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Jelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026, harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) di pasar tradisional Kota Cimahi mulai merangkak naik bahkan melonjak tajam.
Masalahnya tak cuma harga yang mahal, namun para pedagang juga mengaku kesulitan mendapatkan pasokan akibat cuaca buruk yang menghambat distribusi dan lonjakan pesanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Bandung Raya.
Pantauan di Pasar Atas Baru dan Pasar Antri Cimahi menunjukkan kenaikan yang cukup mencolok pada beberapa komoditas utama.
Cabai rawit merah yang semula hanya Rp30.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp70.000 per kilogram naik lebih dari dua kali lipat. Sementara itu, harga bawang merah juga meningkat dari Rp30.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada telur ayam dan ayam potong. harga telur yang sebelumnya Rp28.000 per kilogram kini menjadi Rp32.000 per kilogram, sedangkan ayam potong juga mengalami peningkatan yang signifikan.
Neneng (55), salah satu pedagang di Pasar Atas Baru menduga kenaikan harga dipicu oleh dua faktor utama, yakni biaya distribusi yang meningkat akibat cuaca buruk dan banyaknya pesanan dari SPPG untuk penggadaan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
"Pengiriman dari sentra produksi agak terhambat karena cuaca buruk juga maraknya pesanan untuk SPPG. Itu yang bikin pasokan turun dan harga naik," kata Neneng.
Yang lebih menyakitkan, Neneng mengungkap bahwa SPPG di Kota Cimahi tidak membeli langsung ke pasar tradisional lokal, melainkan ke Pasar Caringin secara langsung.
Hal ini membuat pedagang di Cimahi tidak hanya kehabisan stok, tapi juga kehilangan pembeli.
"Kami jadi merugi, karena tidak belanja ke kami tapi ke Caringin. Dagangan kami sepi ditambah belanja bahan baku jadi mahal," katanya dengan kesal.
Mewakili para pedagang, Neneng berharap kepada pemerintah agar segera mengeluarkan kebijakan untuk menstabilkan harga dan juga memberdayakan pedagang pasar tradisional Cimahi.
"Semoga pemerintah bisa memberikan solusi, agar masyarakat bisa beli murah dan SPPG juga bisa beli ke kami di pasar lokal," tandasnya.
Salah satu warga yanh juga merasakan dampaknya. Ningsih (48), warga Kelurahan Citeureup mengaku khawatir kenaikan harga ini akan berlangsung lama bila tidak ada intervensi.
"Belanja jadi jauh lebih mahal. Kami berharap pemerintah cepat turun tangan," kata Ningsih. ***
Editor : Ahmad Sayuti


