Hilang 18 Jam di Gunung Lemongan, Siswa SMK Ditemukan Selamat di Dekat Jurang
Kronologi siswa smk hilang 18 jam di Gunung Lemongan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Seorang siswa SMK Negeri Tekung bernama M. Aldy Laksmana (16) berhasil ditemukan selamat setelah sempat dinyatakan hilang selama 18 jam saat melakukan pendakian di Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Remaja tersebut ditemukan dalam kondisi lemas di sisi jurang, sekitar satu kilometer dari jalur pendakian utama.
Petugas Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Lumajang, Dwi Nurcahyo, menjelaskan bahwa korban hilang saat mendaki bersama dua rekannya, Hakiki Fano Ramadhan dari SMKN 2 Lumajang dan M. Johan dari SMP Ibnusina, tanpa didampingi orang dewasa, pada Minggu (13/7/2025).
“Setelah berhasil mencapai puncak, korban diduga mengalami kebingungan dan secara tiba-tiba berlari menjauh saat turun. Teman-temannya hanya menemukan tas dan jaketnya, lalu melaporkan kejadian tersebut ke petugas pos pendakian sekitar pukul 14.00 WIB,” ujar Dwi dalam keterangan tertulis yang diterima Rabu (16/7).
Tim gabungan yang terdiri dari TRC BPBD, Tagana Dinsos P3A, babinsa, dan relawan lainnya langsung mengorganisasi upaya pencarian. Namun karena kondisi malam hari dan medan yang gelap serta sulit, evakuasi baru bisa dilakukan keesokan paginya, Senin (14/7).
Pencarian membuahkan hasil setelah seorang pendaki melaporkan mendengar suara teriakan. Tim pun menyusuri arah suara dan berhasil menemukan Aldy dalam keadaan lemas di tepi jurang.
“Korban dievakuasi secara manual dan dibawa ke Pos Laskar Hijau untuk pemeriksaan medis oleh tim PSC 119. Setelah dinyatakan stabil, Aldy langsung dipulangkan kepada keluarganya,” terang Dwi.
Menanggapi insiden ini, BPBD Lumajang menekankan pentingnya edukasi keselamatan bagi para pelajar dan pendaki pemula. Menurut Dwi, meskipun Gunung Lemongan tergolong jalur pendakian yang cukup populer, namun tetap menyimpan berbagai potensi bahaya.
“Anak-anak dan remaja yang ingin mendaki harus dibekali pengetahuan dasar tentang navigasi, manajemen risiko, dan etika pendakian. Ini penting untuk mencegah kepanikan, tersesat, atau kejadian fatal lainnya,” imbuhnya.
Sebagai tindak lanjut, BPBD Lumajang akan bekerja sama dengan pihak sekolah, pemerintah desa, dan pengelola wisata agar setiap pendakian pelajar diwajibkan melakukan registrasi dan mengikuti briefing keselamatan.
“Kejadian ini jadi pengingat bagi semua pihak bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Edukasi yang tepat adalah langkah pencegahan terbaik agar kegiatan alam tetap menyenangkan sekaligus aman,” pungkas Dwi.
Editor : Firda Rachmawati


