Hingga Juli Kebakaran di Kabupaten Cirebon Capai 168 Kasus
Kasus kebakaran di Kabupaten Cirebon per Juli 2026 melonjak hingga 168 kejadian, melampaui total sepanjang 2025. Kebakaran lahan dan korsleting jadi pemicu utam
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Jumlah peristiwa kebakaran di Kabupaten Cirebon hingga Juli 2026 mencapai 168 kejadian. Angka tersebut telah melampaui total kebakaran sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 156 kejadian.
Lonjakan kasus paling signifikan terjadi pada Juli 2026 dengan 77 peristiwa kebakaran. Berdasarkan data Dinas Pemadam kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon, jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Pada Januari 2026, tercatat tujuh kejadian kebakaran. Jumlahnya kemudian meningkat pada bulan-bulan berikutnya, dengan angka tertinggi sebelum Juli tercatat sebanyak 21 kejadian pada Mei.
Dari 77 kejadian selama Juli, kebakaran lahan, alang-alang dan semak belukar mendominasi dengan 54 kasus. Selanjutnya, kebakaran rumah tercatat sebanyak 18 kejadian, toko dua kejadian, dan pabrik sebanyak tiga kejadian.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, jumlah kebakaran hingga Juli tahun ini juga meningkat signifikan. Pada Januari-Juli 2025 tercatat sebanyak 88 kejadian, atau setengah dari jumlah kasus yang terjadi pada periode yang sama tahun ini.
Kabid Pemadam, Penyelamatan, Sarana dan Prasarana Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, Eno Sujana, mengatakan tingginya kasus pada Juli membuat tim pemadam harus melakukan penanganan kebakaran hampir setiap hari di berbagai wilayah Kabupaten Cirebon.
"Petugas bahkan pernah menangani hingga 14 titik kebakaran dalam satu hari pada Juli lalu. Kondisi ini menunjukkan tingginya intensitas kejadian kebakaran selama periode tersebut," ungkap Eno, Minggu (9/8/2026).
Eno menjelaskan, kebakaran rumah tinggal mayoritas dipicu oleh korsleting listrik, terutama akibat instalasi listrik yang tidak memenuhi standar. Selain itu, kelalaian atau kecerobohan penghuni rumah juga menjadi salah satu faktor penyebab kebakaran.
Ia mengimbau masyarakat untuk memastikan seluruh peralatan listrik dalam kondisi mati sebelum meninggalkan rumah. Warga juga diminta memeriksa kembali kompor, baik kompor gas, minyak maupun listrik, untuk memastikan tidak ada sumber panas yang masih aktif.
" Jangan menggunakan sambungan colokan listrik secara berlebihan atau mencabang steker. Sambungan yang longgar dapat menimbulkan panas dan berpotensi menyebabkan kabel meleleh hingga memicu kebakaran," jelasnya.
Pemeriksaan instalasi listrik secara berkala juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya korsleting. Eno menyarankan masyarakat melakukan pengecekan secara rutin, termasuk memastikan kondisi sambungan dan kabel listrik tetap aman.
Ia juga mengingatkan warga untuk menggunakan kabel listrik yang sesuai standar. Penggunaan kabel berukuran kecil atau yang dikenal sebagai kabel rambut dinilai memiliki risiko lebih tinggi mengalami panas berlebih dan korsleting.
Sementara itu, tingginya kasus kebakaran lahan selama Juli juga menjadi perhatian Disdamkarmat. Masyarakat yang beraktivitas di lahan terbuka, seperti pencari rumput dan penggembala, diminta mewaspadai puntung rokok yang dapat menjadi sumber api, terutama saat kondisi lahan kering dan angin bertiup kencang.
"kebakaran dapat terjadi ketika tiga unsur api, yakni oksigen, bahan yang mudah terbakar, dan panas, bertemu dalam kondisi yang memungkinkan terjadinya pembakaran," jelasnya.
Untuk mencegah kebakaran akibat pembakaran sampah, masyarakat diimbau tidak meninggalkan api tanpa pengawasan. Jika pembakaran terpaksa dilakukan, warga diminta menyiapkan air serta membuat batas pengaman di sekitar lokasi pembakaran agar api tidak merambat.
Dia menambahlan, tingginya angka kebakaran hingga Juli 2026 menjadi peringatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi korsleting listrik dan kebakaran lahan. Upaya pencegahan dinilai penting mengingat jumlah kejadian tahun ini telah melampaui total kasus kebakaran sepanjang 2025.
“Tingginya angka kebakaran menjadi peringatan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan pencegahan.” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti


