Ibu Hamil, Balita, Lansia dan Difabel Kini Lebih Terjamin Mendapat Bansos di Kota Bandung

Pemkot Bandung melakukan penyempurnaan penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui sistem data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN).

Ibu Hamil, Balita, Lansia dan Difabel Kini Lebih Terjamin Mendapat Bansos di Kota Bandung
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung Yorisa Sativa menjelaskan, perubahan paling mendasar ada pada penggunaan data tunggal DTSEN penerima bansos. (yogo triastopo)

INILAHKORAN.ID - Pemkot Bandung melakukan penyempurnaan penyaluran bantuan sosial (bansos) melalui sistem data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN).

Perubahan itu memastikan kelompok masyarakat rentan seperti ibu hamil, balita, anak usia sekolah, lanjut usia dan penyandang disabilitas mendapatkan perlindungan sosial bansos yang lebih tepat sasaran.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung Yorisa Sativa menjelaskan, perubahan paling mendasar ada pada penggunaan data tunggal DTSEN penerima bansos.

"Sebelumnya, penerima bansos tercatat di beberapa data terpisah seperti DTKS, P3KE dan Reksos. Sekarang semuanya digabung menjadi DTSEN, sehingga penentuan penerima bansos tidak hanya melihat status kemiskinan. Tapi juga kondisi sosial-ekonomi secara lebih komprehensif melalui sistem pendesilan," kata Yorisa, Sabtu 10 Januari 2026.

Dengan sistem baru, keluarga penerima manfaat bansos yang terdaftar dalam DTSEN pada desil 1 hingga desil 5 berhak mendapatkan bantuan dengan syarat kelengkapan administrasi kependudukan tetap diperhatikan.

Selain itu, program bansos seperti program keluarga harapan (PKH) tetap berjalan dengan kriteria yang lebih jelas.

"Sekarang, ibu hamil, balita, anak usia sekolah, lanjut usia dan penyandang disabilitas yang layak mendapatkan bantuan bisa lebih mudah terdeteksi dan dijangkau oleh pemerintah. Artinya, kelompok rentan benar-benar terlindungi," ucapnya.

Perubahan tersebut juga memunculkan dinamika baru. Beberapa keluarga yang sebelumnya tercatat sebagai penerima bansos dalam DTKS mungkin tidak lagi memenuhi kriteria, sementara masyarakat baru masuk sebagai penerima karena kondisi sosial-ekonomi mereka sesuai dengan hasil pemutakhiran DTSEN.

Menurut Yorisa, hal ini wajar karena sistem baru lebih fokus pada data aktual dan kebutuhan nyata. 

"Dengan DTSEN, kita memiliki satu data tunggal yang bisa diakses berbagai pihak. Semua hasilnya tergantung pada data yang ada di DTSEN, sehingga penyaluran bantuan bisa lebih adil dan tepat sasaran," ujarnya.

Dengan langkah ini, pihaknya berharap distribusi bansos lebih efisien, tepat sasaran dan memastikan kelompok rentan benar-benar memperoleh perlindungan sosial yang mereka butuhkan.


Editor : Doni Ramdhani