Identitas Jenazah Misterius di Sungai Citanduy Terungkap, Korban Buruh Harian Lepas
Identitas jenazah misterius yang ditemukan tersangkut bebatuan di aliran Sungai Citanduy akhirnya terungkap.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Identitas jenazah misterius yang ditemukan tersangkut bebatuan di aliran sungai Citanduy akhirnya terungkap.
Korban diketahui bernama Fiqri Legi Ansori (25), warga Kampung Gareumpay RT 03/09, Kelurahan Sungkup, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya.
Identitas jenazah mistrius itu berhasil diketahui setelah Tim Inafis Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota melakukan pemeriksaan sidik jari terhadap jenazah di kamar mayat RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, Selasa (19/5/2026).
Korban diketahui lahir di Bandung pada 31 Desember 2000, berjenis kelamin laki-laki, bekerja sebagai buruh harian lepas, beragama Islam, dan berstatus sudah menikah.
Kapolsek Cibeureum AKP Iwan Sujarwo membenarkan penemuan mayat tersebut. Dia mengatakan, pihak kepolisian bersama unsur gabungan langsung turun ke lokasi usai menerima laporan warga.
“Betul ada informasi pihak Polsek bersama rekan anggota termasuk Koramil, BPBD, Inafis dan Pamapta serta kelurahan turun langsung dan mengecek bahwa benar ada temuan mayat,” ujar Iwan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar dua hingga tiga hari sebelum ditemukan.
“Untuk jenis kelamin tadi hasil pengecekan laki-laki dan jasad langsung dibawa ke rumah sakit,” katanya.
Saat ditanya terkait kondisi lokasi penemuan, Iwan menyebut proses evakuasi berlangsung cukup sulit karena medan sungai yang curam.
“Sangat luar biasa, kita turun sangat ekstra tapi demi masyarakat dan sama-sama turun,” ucapnya.
Sebelumnya, jasad korban ditemukan warga bernama Mamat Rahmat sekitar pukul 09.30 WIB saat hendak memancing di aliran Sungai Citanduy. Korban ditemukan dalam kondisi tersangkut di bebatuan dan tumpukan sampah di dasar sungai.
Koordinator URC BPBD Kota Tasikmalaya, Harisman, mengatakan proses evakuasi dilakukan menggunakan teknik penyelamatan khusus karena medan yang ekstrem.
“Medannya memang sangat curam, lebih dari 45 derajat kemiringan sehingga kami harus menggunakan teknikal rescue untuk memudahkan pergeseran jenazah dari bawah ke atas,” ujar Harisman.
Dia menambahkan, jarak dari lokasi penemuan menuju titik ambulans mencapai sekitar 500 meter sehingga proses evakuasi dilakukan bertahap dengan membagi tiga titik penarikan.
Editor : Doni Ramdhani

