Jabar Kembali Catatkan Realisasi Investasi Tertinggi, Dedi Mulyadi Minta Harus Sebanding dengan Serapan Tenaga Kerja

Jabar berhasil mengantongi investasi dari sektor penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), sebesar Rp72,5 triliun pada triwulan 2 2025. Atau keseluruhan senilai Rp141 triliun di Semester 1 2025.

Jabar Kembali Catatkan Realisasi Investasi Tertinggi, Dedi Mulyadi Minta Harus Sebanding dengan Serapan Tenaga Kerja
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

INILAHKORAN, Bandung - Gubernur Dedi Mulyadi mengapresiasi kontribusi seluruh pihak, karena pada triwulan 2 2025, Provinsi Jawa Barat kembali mencatatkan realisasi investasi tertinggi di Indonesia.

Jabar berhasil mengantongi investasi dari sektor penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), sebesar Rp72,5 triliun pada triwulan 2 2025. Atau keseluruhan senilai Rp141 triliun di Semester 1 2025.

Dengan angka ini, Kementerian Investasi/BKPM mencatat kontribusi Jawa Barat sebesar 15,2 persen, dari total realisasi dan menduduki peringkat satu provinsi yang paling banyak mencatatkan realisasi investasi.

Kemudian disusul DKI Jakarta Rp71,1 triliun (14,9 persen), Jawa Timur Rp 38,6 triliun (8,1 persen), Sulawesi Tengah Rp 31,6 triliun (6,6 persen) dan Banten Rp 29,7 triliun (6,2 persen).

"Saya mengucapkan terimakasih pada seluruh warga Jawa Barat dan para ketua RT, RW, kepala dusun, aparat perangkat desa, kepala desa, lurah, camat, para kepala Dinas Penanaman Modal Satu Pintu di seluruh Provinsi Jawa Barat, para bupati dan wali kota, saya mengucapkan terimakasih atas kerjasamanya, sehingga pada saat ini, sampai Juli 2025 ini merupakan provinsi yang paling diminati oleh para investor. Total modal yang masuk ke Jawa Barat sudah mencapai Rp72,5 triliun," ujar Dedi dikutip Rabu 30 Juli 2025.

Catatan positif ini lanjut dia, tidak lepas dari kerja keras bersama semua pihak, dalam menjaga iklim investasi yang baik di Jabar. Khususnya dalam penanganan gangguan investasi seperti premanisme.

"Hal ini menunjukkan bahwa, seluruh kinerja yang dilakukan hari ini, menjaga iklim investasi dan berbagai gangguan, premanisme, dari berbagai gangguan, hambatan-hambatan investasi, infrastruktur dan sejenisnya, kita bisa menanganinya dengan baik," ucapnya.

Dedi melanjutkan, realisasi investasi yang tinggi pada semester 1 2025 ini, harus sebanding dengan serapan tenaga kerja di Jawa Barat.

"Dan tinggal bagaimana seluruh investasi ini memiliki dampak pada keterserapan tenaga kerja di Jawa Barat," tuturnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat sambung dia, juga sudah mendukung penuh agar serapan tenaga kerja di industri dapat maksimal.

Salah satunya, dengan hadirnya Gerai Layanan Informasi Ketenagakerjaan (GLIK) yang dikelola Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar, dimana dapat diakses oleh perusahaan pencari tenaga kerja dan calon tenaga kerja.

"Kita bulan Agustus ini sudah memberlakukan lamaran kerja tidak lagi manual, tetapi masyarakat atau orang pencari kerja sudah ada dalam sistem data yang kita miliki," ucapnya.

"Di Dinas Tenaga Kerja provinsi dan kabupaten/kota, kemudian perusahaan tinggal mengoneksikan dan kalau mereka memiliki lapangan kerja atau lowongan kerja, tinggal mengundang orang yang punya kapasitas untuk bekerja di wilayah perusahaannya dan di berbagai daerah di seluruh Provinsi Jawa Barat untuk dilakukan seleksi," imbuhnya.

Harapan Dedi, dengan optimalisasi digital ini dapat mengurangi beban biaya operasional para pencari kerja. Sebab mereka tinggal memasukkan data yang mereka miliki, selanjutnya tinggal diseleksi oleh perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

"Setelah lulus dan dinyatakan diterima, baru ngurus persyaratan. Jangan sampai persyaratan dibuat, tidak lulus, mengeluarkan biaya yang banyak. Untuk itu, selamat bagi semuanya. Mari bekerja untuk kepentingan rakyat Jawa Barat," kata Dedi.


Editor : Ahmad Sayuti