Jateng Pertahankan Insentif Guru Nonformal
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Semarang - Pertanyaan tentang masa depan guru muncul dari ruang yang tak jauh dari dunia pendidikan itu sendiri.
Seorang mahasiswa baru yang kelak akan berdiri di depan kelas menyampaikan kegelisahannya tentang kesejahteraan guru kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.
Muhammad Dimas Ardiansyah, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo Semarang, menyampaikan “curhat”-nya saat menghadiri Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo Semarang 2026.
Sebagai calon guru, Dimas mengaku resah melihat kondisi sebagian guru yang dinilainya belum mendapatkan penghargaan yang layak atas peran mereka dalam mencerdaskan bangsa.
Kegelisahan itu kemudian mendapat jawaban dari Gus Yasin. Dia memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tetap mempertahankan insentif bagi guru nonformal sebagai salah satu bentuk perhatian terhadap kesejahteraan mereka.
“Sejak lima tahun yang lalu guru-guru agama kita beri insentif. Sampai hari ini kita masih mempertahankan insentif itu di saat ekonomi kita tidak baik-baik saja. Kita enggak mengurangi satu persen pun,” katanya di Semarang, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (18/8).
Menurut Gus Yasin, perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan guru tidak hanya ditujukan kepada guru formal. Guru nonformal, termasuk guru agama yang mengajar di pondok pesantren dan madrasah, juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah.
Kelompok tersebut, kata dia, masih menghadapi persoalan kesejahteraan. Sebagian guru nonformal masih memperoleh penghasilan yang sangat terbatas meski menjalankan peran penting dalam pendidikan.
Karena itu, insentif dipertahankan sebagai bentuk penghargaan pemerintah kepada mereka. Kebijakan tersebut menjadi salah satu cara agar pengabdian guru nonformal tetap mendapat perhatian di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah.
Perhatian terhadap guru juga dilakukan melalui pengangkatan menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Gus Yasin menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan guru di Jawa Tengah.
“Siapa yang paling banyak mengangkat PPPK guru di Indonesia? Jawa Tengah paling banyak untuk menyejahterakan gurunya,” katanya. (gin)
Editor : Inilahkoran

