Jejak Manis Gurih Gepuk Sapi Kampung Mahmud, Kuliner Legendaris Warisan Hajah Oyeh
Kampung Mahmud di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, dikenal luas sebagai destinasi wisata religi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kampung Mahmud di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, dikenal luas sebagai destinasi wisata religi. Ribuan peziarah datang setiap tahun untuk berziarah ke makam Eyang Haji Abdul Manaf, tokoh penyebar agama Islam sekaligus pendiri Kampung Mahmud.
Namun, perjalanan ke kampung bersejarah itu terasa belum lengkap tanpa membawa pulang satu oleh-oleh yang sudah melegenda, yakni gepuk daging sapi khas Kampung Mahmud.
Kuliner bercita rasa manis dan gurih ini bukan sekadar lauk pendamping nasi. Di balik kelezatannya, tersimpan kisah panjang yang telah bertahan lebih dari setengah abad.
Perintis gepuk legendaris Kampung Mahmud adalah almarhumah Hajah Oyeh, istri juru kunci makam Eyang Mahmud. Sekitar tahun 1960-an, ia membuka warung sederhana yang menyediakan makanan, jajanan, serta lauk pauk bagi para peziarah yang datang dari berbagai daerah.
Tak disangka, gepuk racikannya menjadi primadona. Dari mulut ke mulut, namanya terus dikenal hingga akhirnya menjadi ikon kuliner Kampung Mahmud.
"Awalnya hanya nenek saya yang membuat Gepuk Sapi ini. Alhamdulillah, rasanya disukai banyak pembeli, terutama para peziarah," kata Eneng Rohaeni (45), cucu Hajah Oyeh yang kini menjadi generasi ketiga penerus resep keluarga, kepada INILAHKORAN.ID, Rabu (8/7/2026).
Seiring meningkatnya jumlah peziarah, warung-warung di Kampung Mahmud pun bermunculan. Banyak pedagang ikut menjual Gepuk Sapi. Meski demikian, Eneng meyakini resep warisan sang nenek tetap memiliki cita rasa yang berbeda.
"Dulu hanya nenek saya yang berjualan. Sekarang penjualnya sudah banyak. Tapi Alhamdulillah pelanggan kami tidak pernah berkurang karena resep asli warisan nenek hanya diteruskan oleh saya dan adik saya," ujarnya.
Rahasia kelezatan gepuk tersebut terletak pada proses pengolahan yang masih dipertahankan secara turun-temurun. Daging sapi pilihan dari bagian paha diolah dalam waktu cukup lama dengan racikan bumbu keluarga yang tidak pernah berubah.
Hasilnya adalah gepuk bertekstur empuk dengan perpaduan rasa manis dan gurih yang pas. Menariknya, tanpa menggunakan bahan pengawet, gepuk buatan Eneng mampu bertahan hingga lima hari pada suhu ruang.
"Proses memasaknya memang cukup lama. Selain itu kami memiliki racikan bumbu khusus yang menjadi ciri khas sejak zaman nenek," tuturnya.
Permintaan gepuk terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam kondisi normal, Eneng menghabiskan sekitar satu kuintal daging sapi setiap pekan.
Namun saat momen-momen tertentu seperti bulan Muharam, menjelang Ramadan, tradisi munggahan, hingga setelah Idulfitri, kebutuhan bahan baku melonjak drastis.
"Kalau sedang ramai bisa mencapai sekitar 10 kuintal daging sapi dalam sehari," katanya.
Gepuk Sapi tersebut dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan. Untuk kemasan seperempat kilogram dijual seharga Rp60 ribu dan menjadi pilihan favorit para peziarah sebagai buah tangan.
Salah satunya Rahmawati (55), peziarah asal Madura. Bersama rombongannya, ia sengaja membeli gepuk dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada keluarga dan tetangganya.
Menurutnya, rasa gepuk Kampung Mahmud sulit ditemukan di daerah lain.
"Dulu saya pernah diberi oleh-oleh gepuk dari sini dan rasanya enak sekali. Sekarang setiap datang ziarah pasti menyempatkan membeli gepuk buatan cucu Hajah Oyeh untuk dibawa pulang," katanya.
Bagi masyarakat Kampung Mahmud, Gepuk Sapi bukan hanya sekadar kuliner. Makanan ini telah menjadi bagian dari sejarah kampung, menghidupi banyak keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa resep sederhana yang dijaga lintas generasi mampu bertahan di tengah perubahan zaman.
Tak heran, setiap langkah peziarah yang meninggalkan Kampung Mahmud hampir selalu diiringi aroma khas Gepuk Sapi dalam bungkusan oleh-oleh yang siap dibawa pulang.***
Editor : JakaPermana

