Kadispernakan KBB Ungkap Faktor Pencemaran Kohe ke Sungai di Kota Bandung
Pencemaran kotoran hewan atau kohe di kawasan sungai Cikapundung melalui Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda dan Curug Dago, Kota Bandung terus menuai sorotan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Pencemaran kotoran hewan atau kohe di kawasan sungai Cikapundung melalui Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H Djuanda dan Curug Dago, Kota Bandung terus menuai sorotan.
Selain sampah, pencemaran tersebut akibat limbah kotoran sapi perah di kawasan hulu, tepatnya Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB)
Hal itu semakin diperkuat dari aliran sungai di daerah Maribaya yang kondisi airnya berwarna hijau pekat dengan buih putih.
Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti mengakui memang tidak mudah untuk mengatasi masalah pencemaran kotoran hewan di sungai lantaran keterbatasan lahan yang dimiliki para peternak di Bandung Barat.
"Kendalanya memang di lahan. Peternak di Lembang ini tidak punya lahan luas untuk menampung kotoran sapinya," kata Wiwin belum lama ini.
Dari sekitar 6.000-an lebih peternak sapi yang ada di kawasan Lembang dan populasi sapi sebanyak 26.300-an ekor, sebut Wiwin, penyelesaian kotoran hewan yang dihasilkan diperkirakan baru 30 persennya.
"Mungkin baru 30 persennya terselesaikan dengan biogas, cacing untuk kosmetik, pupuk organik," sebutnya.
Menurutnya, hal yang harus diselesaikan adalah 70 persennya. Sebab, para peternak terkendala ketersediaan anggaran kalau harus membuat pengolahan limbah sendiri.
Namun, upaya pengentasan masalah pencemaran kohe ini akhirnya didengar oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ada beberapa langkah penanganan pencemaran limbah kotoran sapi yang sudah disiapkan.
"Nanti informasinya akan dibikin kolam tandon di lahan salah satu perusahaan bekerjasama dengan provinsi, dan itu sudah kita bahas," bebernya.
"Nanti dari hulu kotoran akan ditampung, lalu akan dibuatkan semacam pengolahannya," sambungnya.
Sebetulnya, kata Wiwin, peternak yang membuang limbah kotoran sapi ke aliran sungai diyakini hanya segelintir saja. Terutama mereka peternak mandiri yang cuma memiliki sedikit sapi peliharaan.
"Tidak semua ke sungai, kalau semua ya sungai tercemar parah. Sebenarnya yang ada lahan saya yakin sudah sadar, memang perlu Ipal," ungkapnya.
"Hanya saja kendalanya yang perorangan, lahan terbatas. Sebetulnya kan kotoran ini sangat bagus buat pupuk, tapi itu tadi mereka enggak ada lahan," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana


