KBB Menyimpan Sejarah Pabrik Kokain Terbesar

Di Kampung Citembong, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, KBB terdapat bekas bangunan bersejarah yang diyakini pabrik kokain terbesesar.

KBB Menyimpan Sejarah Pabrik Kokain Terbesar
Wawan (64) menceritakan di Kampung Citembong, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, KBB itu terdapat bekas bangunan bersejarah yang diyakini lokasi pabrik kokain terbesar yang memproduksi kokain di masa kolonial Belanda.

INILAHKORAN, Ngamprah - Daerah KBB dengan segala potensi dan kekayaan alam menjadi incaran para penjajah. Bahkan, untuk pabrik kokain terbesar.

Di Kampung Citembong, Desa Margaluyu, Kecamatan Cipeundeuy, KBB terdapat bekas sejumlah bangunan bersejarah yang diyakini lokasi pabrik kokain terbesar yang memproduksi kokain di masa kolonial Belanda.

Berdasarkan informasi yang diterima dari warga Kabupaten Bandung Barat (KBB), meski bangunan tersebut sudah hancur dan beralih fungsi menjadi lahan perkebunan warga, namun sisa-sisa puing bangunan yang masih tersisa menjadi saksi bisu sempat berdirinya sebuah pabrik kokain terbesar di kawasan tersebut.

Baca Juga: Triwulan I 2022, Pertumbuhan Ekonomi Jabar Bak Ketiban Durian Runtuh

"Pada tahun 1970, Kampung Citembong menjadi salah satu hunian kaum urban, tak banyak yang tahu tentang keberadaan pabrik kokain seluas 200 hektar lebih tersebut bagi mereka yang baru bermukim di sana," kata Wawan (64), warga setempat.

Menurutnya, hanya warga pribumi yang kini telah berusia lanjut yang banyak mengetahui secara detail sejarah adanya pabrik kokain terbesar di Kampung Citembong.

"Cerita tersebut hanya segelintir saja yang tahu. Itu pun dari para turunan orang tua atau sesepuh," tuturnya.

Baca Juga: Persib vs Persikabo 1973 Akhirnya Menemui Kepastian Main, Ini Jadwal Tandingnya

“Tidak banyak orang yang tahu bahwa dulu di sini pernah ditanami kokain seluas ratusan hektar,” sambungnya.

Lebih jauh ia menerangkan, dahulu kakeknya di pabrik kokain tersebut sempat menjabat sebagai mandor di perkebunan maupun di pabrik kokain tersebut.

"Itu tepatnya tahun 1940, dulu sempat dibangun sejumlah fasilitas yang dibangun pada masa kolonial Belanda, antara lain rumah singgah dan lapangan untuk berkuda," terangnya.

Baca Juga: Ridwan Kamil Tetap Sewakan Mobil Klasik Milik Eril, Hasilnya 100 Persen untuk Kemanusiaan

Masih terlintas diingatan Wawan sewaktu ia masih kecil, tak jauh dari area perkebunan miliknya berdiri kokoh sebuah bangunan yang aktif memproduksi kokain.

"Dari lokasi saung saya ini, ada bangunan berupa bak mandi kuda dan di samping kirinya ini pabrik kokain tersebut. Namun, sekarang bangunannya sudah hancur," tandasnya. (Agus Satia Negara)


Editor : inilahkoran