Kebun Teh Puncak Diduga jadi Tempat Mesum, Ini Tanggapan Kepala Satpol PP Bogor
Keberadaan kebun teh Puncak di Gunung Mas, Cisarua, Kabupaten Bogor yang menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto-foto dicemari ulah segelintir orang yang bertanggung jawab.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cisarua - Keberadaan kebun teh Puncak di Gunung Mas, Cisarua, Kabupaten Bogor yang menjadi tempat favorit wisatawan untuk berfoto-foto dicemari ulah segelintir orang yang bertanggung jawab.
Di lokasi, tepatnya di belakang atau tak jauh dari lokasi kios pedagang kaki lima (PKL) di Blok S ditemukan sampah alat kontrasepsi atau kondom bekas dan tissue magic. Ditengarai, kebun teh Puncak itu dijadikan tempat mesum pasangan yang tidak sah.
Aksi tak terpuji pasangan yang tidak sah tersebut pun disayangkan pasangan wisatawan lainnya yang ke kebun teh Puncak yang berniat untuk foto-foto saja sambil menikmati jajanan di kios PKL.
"Sebetulnya salah ya, kan sudah ada tempatnya seperti di hotel atau vila. Jadi kenapa harus di kebun teh Puncak ini, mungkin cowoknya tidak mau keluar uang. Saya juga pasti mikir-mikir kalau mau melakukan hubungan layaknya suami istri di sini," ucap Soni kepada wartawan, Minggu 1 Januari 2023.
Ia menambahkan bahwa kasihan ceweknya, kalau harus melakukan hubungan terlarang di kebun teh Puncak. Apalagi, berisiko ketahuan dan digerebek oleh masyarakat atau wisatawan lainnya.
"Bayangin kalau ketahuan berhubungan layaknya suami istri, lalu digerebek dan diarak oleh masyarakat. Bisa viral, dan kasihan pihak cewek dan bisa menghancurkan masa depannya," tambah wisatawan asal Kota Bekasi ini.

Diwawancarai terpisah, Kepala Satpol PP Kabupaten Bogor Cecep Imam Nagarasit menyayangkan pihak PT Perkebunan Nusantara VIII selaku pemilik Kebun Teh Gunung Mas.
"Harusnya pemilik lahan dapat menjaga secara baik lahannya, jangan sampai ada perbuatan yang tidak terpuji atau bahkan menjadi tempat prostitusi," kata Cecep Imam Nagarasit.
Mantan Camat Babakan Madang ini menjelaskan, bahwa pihaknya sudah sangat maksimal dalam melakukan operasi yustisi hingga banyak pekerja seks komersial (PSK) yang terazia.
"Kami sudah menjaring para PSK namun tempat penampungan dan pembinaannya penuh hingga setelah didata, diserahkan kembali ke keluarganya. Pembinaan PSK, bukan hanya tugas Satpol PP dan perlu berkolaborasi dengan dinas lainnya seperti Dinas Sosial, Dinas Koperasi dan UKM serta lainnya," jelasnya.*** (reza zurifwan)
Editor : Doni Ramdhani


