Petani Jeruk Lemon di Lembang Kerap Merugi, Kelompok Tani Ini Berikan Solusi Melalui Pengolahan Dried Lemon
Kerugian hasil panen yang kerap dirasakan para petani jeruk lemon di Lembang menjadi persoalan serius yang harus dientaskan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kerugian hasil panen yang kerap dirasakan para petani jeruk lemon di Lembang menjadi persoalan serius yang harus dientaskan.
Pasalnya, kondisi tersebut berdampak pada perekonomian petani jeruk lemon di Lembang yang menggantungkan hidupnya dari hasil panen jeruk lemon tersebut.
Gagalnya panen jeruk tersebut terjadi lantaran hasil panen petani jeruk lemon di Lembang yang mereka jual harganya rendah atau bahkan busuk akibat tidak terserap pasar.
Menyiasati kendala tersebut, Kelompok Tani Melati Jayagiri Lembang bekerja sama dengan Taruna Merah Putih melaksanakan pelatihan pengolahan dried lemon (pengeringan jeruk lemon) untuk diolah menjadi komoditas yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
"Wawasan dan pengetahuan petani jeruk lemon di Lembang ini harus terus di-upgrade," kata salah seorang pengurus Kelompok Tani Melati Jayagiri Lembang Thio Sektiowekti kepada wartawan.
Menurutnya, melalui pelatihan tersebut para petani jeruk lemon di Lembang tersebut bisa mengetahui bagaimana mengolah jeruk lemon hasil panen menjadi produk yang bisa diserap pasar dan harganya lebih tinggi.
"Saat pandemi harga jeruk lemon dijual sekitar Rp15 ribu per kg karena banyak yang mencari untuk keperluan obat menambah imun tubuh," tuturnya.
Namun, sambung dia, sekarang harganya anjlok menjadi sekitar Rp3 ribu per kg. Padahal, ongkos petani untuk menanam, membeli benih, pupuk, dan perawatan lebih dari itu.
"Oleh karena itu petani jeruk lemon di Lembang ini kadang banyak yang membuang hasil panennya atau membiarkan busuk karena kalau dijual pun mereka tetap merugi," bebernya.
Oleh karenanya, jelas dia, pelatihan dengan konsep dried lemon ini menjadi alternatif pilihan para petani karena produk yang dihasilkan setelah diolah harganya naik secara signifikan dari Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per kg dan sudah dikemas.
"Konsep pengolahan ini bisa meningkatkan pendapatan petani pascapandemi Covid-19," jelasnya.
Menurutnya, permintaan pasar juga sangat tinggi sementara kapasitas masih terbatas.
"Untuk sekali pengeringan jeruk lemon basah sebanyak 120 kg hanya menghasilkan 12 kg lemon kering, padahal saat ini permintaan lebih dari itu," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris DPD Taruna Merah Putih Jawa Barat Putri Puspita Ariane mengatakan, sebagai obstaker pihaknya berupaya membantu petani agar bisa menjual hasil panennya dan mendapatkan harga lebih tinggi dari harga pasar biasanya.
Dengan begitu, ada pemberdayaan petani lemon dan mereka bersemangat ketika ada support dari obstaker.
"Permintaan jeruk lemon yang dikeringkan ini sedang booming, permintaannya banyak seperti dari restoran atau cafe, tapi kapasitas suplai dari kelompok tani masih kurang," bebernya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, KBB Heru Budi Purnomo mengatakan budidaya jeruk lemon di KBB sangat banyak terutama di wilayah Kecamatan Cisarua dan Lembang.
"Tapi seiring kasus Covid-19 yang turun, budidaya lemon juga turun karena permintaan pasar juga berkurang," ujarnya.
Ke depan, kata dia, sedang dicari inovasi agar selain dikonsumsi sebagai obat, lemon juga agar dibuat bertahan lama.
Menurutnya, sekarang ada inovasi dengan cara dikeringkan melalui mesin oven yang dirancang khusus sehingga lemon yang dikeringkan bisa dikonsumsi, dari lemonnya sampai ke kulitnya.
"Melalui pengolahan ini jari zero waste, karena semua bagian lemon bisa dimanfaatkan," ujarnya.
"Makanya dari pemerintah kami terus support dari hulu seperti bantuan benih dan pupuk, hingga hilir dengan menyiapkan obstaker yang siap membeli produk lemon dari KBB," tandasnya.*** (agus satia negara)
Editor : Doni Ramdhani


