Kekerasan Terhadap Anak Kembali Meningkat, DP3AP2KB Cimahi Gencar Sosialisasikan Program SRA
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Cimahi tengah gencar mensosialisasikan program Sekolah Ramah Anak (SRA).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) kota cimahi tengah gencar mensosialisasikan program Sekolah Ramah Anak (SRA).
Betapa tidak, sepanjang tahun 2024 DP3AP2KB Kota Cimahi mencatat 52 kasus. Sedangkan hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 40 kasus kekerasan anak dan perempuan.
"Program SRA bertujuan menciptakan suasana sekolah yang aman dan nyaman, baik fisik maupun mental," kata Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AP2KB Kota Cimahi, Neneng Mastoah.
Neneng menjelaskan, dampak negatif dari perkembangan gadget masih sangat besar. Dengan adanya sekolah ramah anak, pihaknya ingin menciptakan lingkungan yang lebih positif.
"Strategi Pemkot Cimahi melibatkan kolaborasi pentahelix (pemerintah, akademisi, legislatif, dunia usaha, media) serta kerjasama lintas sektor untuk menciptakan kantin sehat, ruang bermain yang aman, dan membatasi ancaman terhadap kesehatan dan keamanan anak," jelasnya.
"Partisipasi aktif dari tenaga pendidik, orang tua, warga sekolah, komite, dan lingkungan sekitar juga ditekankan sebagai kunci keberhasilan program ini," sebutnya.
Meski begitu, Neneng tak memungkiri tingginya angka kekerasan terhadap anak di Cimahi menjadi tantangan besar pihaknya. Pasalnya, sepanjang tahun 2024 terdapat 52 kasus, dan hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 40 kasus.
"Angka ini harus terus kita tekan, idealnya zero kekerasan pada anak di masa mendatang," tegasnya.
Pihaknya berharap standarisasi SRA dapat segera terwujud di seluruh sekolah di Cimahi, mulai dari sarana prasarana yang memadai, hingga penguatan kolaborasi lintas instansi dan masyarakat.
Sebab tanpa penanganan yang komprehensif terhadap akar masalah kekerasan, program ini berpotensi hanya menjadi formalitas tanpa dampak signifikan.
"Karena kompleksitas masalah kekerasan yang seringkali melibatkan faktor-faktor di luar lingkungan sekolah," ujarnya.
"Hanya dengan upaya bersama dan komitmen yang kuat, mimpi tentang "zero kekerasan pada anak" dapat menjadi kenyataan," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

