Kekeringan dan El Nino Ancam Jabar: Tanah Retak, Sawah Rusak

DAMPAK kekeringan panjang mengintai hampir seluruh lini kehidupan di Jawa Barat. Dari air bersih mendadak langka hingga sawah- sawah yang tak lagi basah.

Kekeringan dan El Nino Ancam Jabar: Tanah Retak, Sawah Rusak
ANCAMAN: El Nino serta kekeringan panjang hingga akhir tahun mengancam hampir semua sektor di Jawa Barat mulai dari krisis air bersih hingga terganggunya sektor pertanian.

Oleh: Yuliantono/Cesar Yudistira 

DAMPAK kekeringan panjang mengintai hampir seluruh lini kehidupan di Jawa Barat. Dari air bersih mendadak langka hingga sawah- sawah yang tak lagi basah.

Bagi Edi Wibowo, musim kemarau tahun ini seperti datang jauh lebih cepat. Rasanya pun lebih terik dari biasanya.

Di berbagai pelosok desa, tanah yang tadinya subur dan basah kini berubah menjadi keras serta merekah. Banyak sungai mengering, sumur warga padam, hingga sektor pertanian yang kini rentan.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, itu mendapati fakta-fakta miris tentang dampak nyata yang tak seluruhnya diketahui warga. Dia tergerak memaparkannya agar semua pihak kini punya satu kesamaan sikap, menjadi lebih waspada.

Edi memaparkan, wilayah Jabar akan mengalami curah hujan rendah hingga November-Desember 2026 dengan kondisi hujan berada di bawah normal dibandingkan pola klimatologis.

Tak hanya kemarau, fenomena El Nino terus menguat menjadi perhatian serius karena berpotensi memperparah dampak kekeringan di berbagai daerah, termasuk kawasan Bandung Raya.

Berdasarkan pemutakhiran monitoring dan prediksi dasarian III Juli 2026, Jawa Barat telah memasuki fase puncak musim kemarau.

"Untuk wilayah Bandung Raya sudah memasuki masa puncak musim kemarau dan El Nino diperkirakan akan mencapai level sangat kuat," katanya di Bandung, Rabu (12/8).

BMKG mencatat, berdasarkan analisis iklim global periode Juni-Agustus-September (JAS) 2026, indikator Sea Surface Temperature (SST) Nino 3.4 menunjukkan penguatan El Nino hingga kategori sangat kuat.

Bahkan, dalam prakiraan cuaca Jawa Barat periode 10-16 Agustus 2026, indeks Nino 3.4 telah mencapai angka +2.02. Kondisi tersebut menjadi sinyal adanya potensi penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

" Itu mengindikasikan potensi pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Barat," ucapnya.

Menghadapi ancaman kemarau ekstrem tersebut, BMKG meminta masyarakat serta pemerintah daerah memperkuat langkah antisipasi.

Sejumlah risiko yang perlu diwaspadai antara lain berkurangnya pasokan air bersih, terganggunya sektor pertanian, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan.

"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, seperti penurunan ketersediaan air bersih, kekeringan pada lahan pertanian, serta potensi peningkatan titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," katanya.

Selain kesiapsiagaan menghadapi bencana, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mengendalikan penggunaan air bersih selama periode kemarau yang dipengaruhi El Nino.

"Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan air bersih, menghindari aktivitas pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, serta menjaga kesehatan tubuh dari paparan debu dan suhu panas ekstrem," imbau Edi.

Meski potensi hujan mengalami penurunan, BMKG menyebut masih terdapat dinamika atmosfer yang memungkinkan munculnya hujan lokal di sejumlah wilayah Jawa Barat dalam sepekan ke depan.

Edi menjelaskan, peluang tersebut dipengaruhi beberapa faktor, seperti suhu muka laut yang masih relatif hangat di sejumlah perairan Indonesia, tingkat kelembapan udara lapisan 850-700 mb yang masih berada pada kisaran 50-90 persen, serta kondisi atmosfer yang bervariasi dari ringan hingga sedang.

"Mulai dari suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, kelembapan udara lapisan 850-700 mb yang relatif masih lembap, berkisar diantara 50-90 persen, hingga labilitas atmosfer yang bervariasi dari ringan sampai sedang," tandasnya.

Bandung Rawan Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung memetakan potensi bencana yang mengintai wilayahnya di musim kemarau.

Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar), terdapat 8 kecamatan yang diidentifikasi rawan mengalami kebakaran lahan.

Petugas BPBD Kota Bandung, Asep Gufron, mengungkapkan area yang menjadi perhatian utama adalah lahan-lahan kosong yang ditumbuhi ilalang tinggi dan tidak terpakai oleh warga.

"Teridentifikasi dari Damkar itu 8 kecamatan yang punya lahan-lahan kosong dan masih ilalang tumbuh. Nah itu yang menjadi catatan dari kami," ujar Asep.

Saat ini, BPBD Kota Bandung tengah menyusun kajian risiko bencana (KRB) terkait penanggulangan kebakaran lahan.

Selain itu, upaya kolaborasi dengan berbagai pihak terus dilakukan untuk menyiapkan area ruang terbuka hijau (RTH) dan hutan lindung guna meminimalisasi risiko.

Sebagai langkah antisipasi di lapangan, BPBD memperkuat koordinasi hingga ke tingkat tapak agar penanganan bisa dilakukan dengan cepat.

"Persiapannya kami lebih ke tingkat kelurahan untuk segera melaporkan apabila terjadi kebakaran lahan di area-area tertentu," katanya.

Asep juga mengimbau seluruh warga Kota Bandung untuk tidak memicu potensi kebakaran selama musim kemarau berlangsung.

"Kepada masyarakat Kota Bandung, yang pertama jangan pernah membakar sampah sembarangan. Kemudian waspadai dengan lahan-lahan kering yang ada sehingga potensi kebakaran lahan kosong bisa diminimalisir," bebernya Air Bersih Sementara itu, Asep Gufron menyebutkan ada 13 kecamatan dan 24 kelurahan yang masuk dalam radar pemantauan pihak BPBD terkait ancaman krisis air bersih.

"Baru 2 kecamatan dan 3 kelurahan yang kami berikan bantuan air bersih," kataya.

Adapun tiga wilayah yang menjadi konsentrasi penyaluran air bersih saat ini meliputi Cisaranten Endah, Arcamanik, dan Pasteur. Wilayah-wilayah tersebut diprioritaskan karena adanya permintaan langsung dari warga setempat.

Guna memenuhi kebutuhan harian masyarakat di area terdampak, BPBD bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) telah menyalurkan puluhan ribu liter air.

"Baru 4 tangki (yang disalurkan), satu tangkinya 3.000 liter. Kami sumbangsih kepada warga yang membutuhkan, itupun berkolaborasi dengan PMI," jelasnya.

Asep menegaskan bahwa secara keseluruhan stok air di Bandung masih tergolong aman. Namun, bantuan armada tangki disiapkan untuk merespons wilayah yang pasokannya menyusut secara mendadak.

"Kalau ditanya Kota Bandung kekurangan air bersih tentunya tidak, karena Kota Bandung lumbungnya air. Hanya kalau sekarang kebutuhan warga, kami akan menyiapkan suplai untuk warga," pungkas Asep. (bsf)


Editor : Inilahkoran