Kenapa Ada Orang Tahan Sakit? Ini Faktor yang Memengaruhi Toleransi Nyeri
Mengapa kemampuan menahan sakit setiap orang berbeda? Kenali faktor genetik, usia, stres, pengalaman, kondisi kesehatan, hingga gaya hidup.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pernah melihat seseorang tetap tenang ketika disuntik, sementara orang lain langsung meringis atau bahkan berteriak kesakitan? Perbedaan tersebut berkaitan dengan toleransi rasa sakit (pain tolerance) yang dimiliki setiap orang.
toleransi rasa sakit merupakan batas maksimum rasa nyeri yang masih mampu ditahan seseorang. Kondisi ini berbeda dengan ambang batas rasa sakit (pain threshold), yakni titik ketika seseorang mulai merasakan suatu rangsangan sebagai sesuatu yang menyakitkan.
Sebagai gambaran, dua orang dapat menerima cubitan dengan kekuatan yang sama. Orang pertama mungkin langsung merasa sakit, sedangkan orang kedua belum merasakan nyeri. Perbedaan lainnya terlihat dari seberapa lama atau seberapa kuat mereka mampu menahan rasa sakit tersebut.
Lantas, mengapa kemampuan setiap orang dalam menghadapi rasa sakit bisa berbeda?
Faktor Genetik Berperan
Genetik menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi cara tubuh merespons rasa sakit. Perbedaan gen tertentu dapat membuat sistem saraf seseorang memiliki respons berbeda terhadap rangsangan yang menimbulkan nyeri.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya pengaruh faktor keturunan dalam kemampuan seseorang merespons rasa sakit, termasuk ketika tubuh menghadapi paparan suhu ekstrem.
Usia dan Jenis Kelamin
Usia juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan merespons nyeri. Anak-anak dan orang dewasa dapat menunjukkan respons yang berbeda terhadap rangsangan menyakitkan.
Selain itu, penelitian menemukan adanya perbedaan sensitivitas nyeri antara pria dan wanita. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh hormon, sistem saraf, pengalaman, hingga faktor sosial dan budaya.
Pengalaman Masa Lalu Membentuk Respons
Pengalaman sebelumnya juga berperan dalam membentuk cara seseorang menghadapi rasa sakit. Tubuh memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi tertentu.
Seseorang yang terbiasa menghadapi lingkungan dengan suhu sangat panas atau dingin, misalnya, dapat mengalami perubahan respons terhadap kondisi tersebut setelah berulang kali terpapar.
Hal serupa dapat terjadi pada pengalaman terhadap rasa sakit. Pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi ekspektasi dan respons seseorang ketika menghadapi kondisi yang sama di kemudian hari.
Ekspektasi dan Stres Bisa Memperkuat Nyeri
Kondisi psikologis juga tidak dapat dipisahkan dari pengalaman rasa sakit. Ketika seseorang sejak awal merasa takut atau membayangkan sebuah tindakan medis akan sangat menyakitkan, rasa nyeri yang dirasakan dapat terasa lebih berat.
Stres juga dapat memengaruhi bagaimana otak memproses sinyal nyeri. Karena itu, kondisi emosional seseorang dapat membuat pengalaman terhadap rasa sakit berbeda meskipun rangsangan yang diterima relatif sama.
Kondisi kesehatan Memengaruhi Sensitivitas
Beberapa kondisi kesehatan dapat mengubah cara otak dan sistem saraf memproses rasa sakit.
Orang dengan kecemasan atau depresi dapat mengalami peningkatan persepsi terhadap nyeri. Sementara itu, kondisi tertentu yang menyebabkan nyeri kronis dapat membuat sistem saraf menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan.
Pada kondisi seperti fibromyalgia, misalnya, seseorang dapat mengalami sensitivitas nyeri yang lebih tinggi sehingga rasa sakit terasa lebih mudah muncul atau lebih sulit ditoleransi.
Gaya Hidup Juga Berpengaruh
Kebiasaan sehari-hari turut berperan dalam kemampuan tubuh mengelola rasa sakit. Kurang tidur, insomnia, merokok, serta penggunaan obat tertentu dapat memengaruhi sistem saraf dan cara tubuh memproses nyeri.
Karena itu, menjaga kualitas tidur, menerapkan pola hidup sehat, dan mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga respons tubuh terhadap rasa sakit.
Jangan Abaikan rasa sakit
Memiliki toleransi rasa sakit yang tinggi memang dapat membantu seseorang menghadapi situasi tertentu. Namun, kemampuan menahan nyeri bukan berarti seseorang harus selalu mengabaikannya.
rasa sakit pada dasarnya merupakan alarm alami tubuh yang memberi sinyal adanya gangguan atau potensi masalah kesehatan.
Jika rasa sakit muncul secara tiba-tiba, semakin berat, berlangsung lama, atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Dengan memahami perbedaan antara ambang nyeri dan toleransi nyeri, seseorang dapat lebih memahami respons tubuh sekaligus tidak mengabaikan sinyal penting yang diberikan tubuh.***
Editor : JakaPermana


