Kisah Pilu Keluarga Korban Longsor Cisarua, Sebut ada Firasat Sebelum Kejadian
Di sudut warung kecil tak jauh dari Balai Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Sutisna (52) duduk pelan sambil mengusap mata yang terus meneteskan air mata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Di sudut warung kecil tak jauh dari Balai Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Sutisna (52) duduk pelan sambil mengusap mata yang terus meneteskan air mata.
Pria paruh baya asal Cipeundeuy, Cikalong Wetan ini sedang menghadapi masa tersulit dalam hidupnya, yakni kehilangan anggota keluarga yang hilang dalam longsor dan banjir yang menerjang RT 05/11 Desa Pasirlangu pada dini hari tanggal 24 Januari lalu.
“Saya masih harap-harap cemas, menunggu keajaiban. Paman saya, Ade Jangkung (68) dan dua anaknya, yakni Gugun Sutardi (28) dan Diana (24) masih belum ditemukan," kata Sutisna dengan suara gemetar, sambil menahan tangis.
Meski hati penuh dengan kesedihan, ada sedikit titik terang yang membuatnya bersyukur. “Sementara itu, Ayi, satu lagi anggota keluarga alhamdulillah selamat karena berada di lokasi yang berbeda saat kejadian terjadi,” tambahnya.
Sutisna mengaku salah satu korban telah merasakan firasat tidak baik menjelang bencana. “Awalnya sudah ada firasat aneh. Beberapa waktu sebelum kejadian, sempat ada suara tidak biasa di atap rumah keluarga kami di Pasirlangu. Seolah ada sesuatu yang bergerak atau tanah yang bergeser,” cerita dia.
Informasi tentang kejadian datang terlambat karena kondisi yang sangat sulit. “Kita di Cipeundeuy baru mendapatkan kabar setelah hampir sehari kejadian. Area Pasirlangu sudah dua hari mati lampu, sehingga tidak bisa dihubungi sama sekali melalui telepon,” jelasnya.
Tak cuma itu, sebelum kejadian korban sempat mengunggah status yang bertuliskan 'datangnya takdir tak bisa dibendung'.
"Status itu dibuat korban sekitar jam 20.00 WIB. Seolah ada firasat," ujarnya.
Kondisi keluarga semakin memprihatinkan karena ayah Sutisna saat ini sedang menjalani perawatan di RSUD Cibabat. Lansia tersebut dalam masa pemulihan setelah mengalami pembengkakan jantung, dan kabar tentang bencana membuat kondisinya menjadi kurang stabil.
“Kita tidak berani memberitahu secara rinci tentang kehilangan keluarga kepada beliau. Hanya diberitahu bahwa ada kejadian bencana dan beberapa keluarga kita terdampak,” ucap Sutisna sambil menghela napas panjang.
Hingga saat ini, pihak penangan bencana masih terus melakukan operasi pencarian terhadap korban yang hilang. Jumlah korban meninggal telah mencapai 8 orang, dengan 82 orang lainnya masih belum ditemukan.
Relawan yang bertugas di lokasi mengatakan bahwa medan yang labil dan curah hujan yang tinggi menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan pencarian.***
Editor : JakaPermana


