Kolaborasi SMKN 3 Cimahi dengan Hotel Harris & Pop Bekali Lulusan Siap Tempur

MK Negeri 3 Cimahi mengambil langkah konkret untuk menjawab hal itu melalui Program Kelas Industri bersama Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung.

Kolaborasi SMKN 3 Cimahi dengan Hotel Harris & Pop Bekali Lulusan Siap Tempur
Pelaksanaan program ini tak cuma berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan industri, melainkan telah mendapatkan pengesahan resmi dari Dinas Pendidikan, sehingga memiliki dasar kebijakan yang kuat dan terarah. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, pendidikan vokasi tidak bisa lagi hanya berhenti pada pencetakan ijazah. 

Tantangan utama kini yakni memastikan setiap siswa benar-benar siap terjun ke lapangan kerja, dan SMK Negeri 3 Cimahi mengambil langkah konkret untuk menjawab hal itu melalui Program Kelas Industri bersama Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung.

Pelaksanaan program ini tak cuma berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan industri, melainkan telah mendapatkan pengesahan resmi dari Dinas Pendidikan, sehingga memiliki dasar kebijakan yang kuat dan terarah. 

"Kelas Industri ini hadir sebagai jawaban atas kesenjangan yang masih ada antara kompetensi lulusan vokasi dengan kebutuhan dunia usaha dan industri (DUDI)," kata perwakilan Harris & Pop! Hotel Festival Citylink Bandung Ismail Fajar Septiana, Jumat 13 Februari 2026.

Menurutnya, esensi pendidikan vokasi yang sesungguhnya, yaitu mencetak sumber daya manusia yang siap pakai dan siap guna.

Ismail menjelaskan, istilah siap pakai di sini bukan berarti siswa diperlakukan seperti pekerja sejak dini. 

"Sebaliknya, mereka dibekali pemahaman mendalam tentang industri, etos kerja yang kuat, serta kebiasaan profesional yang selaras dengan standar yang berlaku," jelasnya.

Ismail mengakui, tantangan terbesar bagi lulusan SMK bukan hanya pada penguasaan teknis, melainkan kesiapan mental dan karakter saat memasuki lingkungan kerja nyata. 

Sebab, tanpa persiapan yang matang, siswa berisiko mengalami culture shock ketika harus beradaptasi dengan ritme dan tuntutan industri.

"Sektor hospitality khususnya perhotelan menuntut tingkat disiplin yang tinggi, etika kerja yang kuat, serta kemampuan untuk memberikan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan tamu," ujarnya. 

"Oleh karena itu, proses pembentukan karakter menjadi fokus utama dalam program ini," sambungnya.

Ismail menyebut, keberhasilan Kelas Industri tidak bisa diraih sendirian. Ia menilai, peran aktif orang tua sangat krusial dalam membentuk sikap, konsistensi, dan komitmen siswa selama mengikuti program. 

"Tanpa dukungan keluarga, potensi siswa tidak akan bisa dimaksimalkan secara optimal," ucapnya.

Di tengah pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi yang sangat dekat dengan Generasi Z dan Alfa, ungkap Ismail, tantangan pembinaan karakter menjadi semakin kompleks. 

Hal ini menuntut adanya sinergi yang lebih erat antara sekolah, industri, dan orang tua untuk membimbing siswa tetap fokus mengembangkan diri.

"Kelas Industri bukan sekadar program tambahan, melainkan sebagai ekosistem pembelajaran yang menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja," jelasnya. 


Editor : Doni Ramdhani