Kota Bandung Rawan Sesar Lembang, Farhan Dorong Budaya Siaga Bencana
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak masyarakat membiasakan hidup siaga bencana mengingat Kota Bandung berada di kawasan aktivitas Sesar Lembang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengajak masyarakat membiasakan hidup siaga bencana mengingat Kota Bandung berada di kawasan yang dipengaruhi aktivitas Sesar Lembang. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dilakukan saat bencana terjadi.
Dia mengatakan, posisi Kota Bandung yang memiliki potensi ancaman bencana membuat masyarakat perlu memahami langkah-langkah penyelamatan sejak dini. Terlebih sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, bencana yang terjadi di Kota Bandung berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas.
"Kesiapsiagaan menghadapi bencana, harus berada dalam konteks kultural atau pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi harus menjadi kebiasaan masyarakat," kata Farhan, Selasa (4/8/2026).
Dia menjelaskan, budaya siaga bencana dapat dimulai dari hal sederhana seperti mengetahui titik evakuasi, memahami prosedur penyelamatan hingga memiliki kepedulian untuk saling membantu ketika terjadi keadaan darurat.
Menurutnya, membangun kesiapsiagaan tidak bisa dilepaskan dari nilai gotong royong yang selama ini menjadi karakter masyarakat Indonesia. Karena itu, upaya menjaga Kota Bandung harus dilakukan bersama. Bukan hanya mengandalkan pemerintah.
"Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa. Tugas menjaga kota ini bukan semata-mata tugas pemerintah, tetapi harus melibatkan partisipasi masyarakat," ucapnya.
Farhan juga mengingatkan, masyarakat agar tidak memiliki pola pikir individualistis dalam menghadapi bencana. Keterlibatan warga, menjadi faktor penting dalam memperkuat ketangguhan lingkungan ketika terjadi situasi darurat.
Partisipasi tersebut, lanjutnya dapat diwujudkan melalui berbagai organisasi kemasyarakatan seperti RT, RW, Posyandu, PKK, Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Taruna Siaga Bencana (Tagana) hingga Kampung Siaga Bencana.
"Warga jaga warga bukan sekadar slogan. Itu adalah kesepakatan hati untuk saling menjaga, dan saling membantu ketika menghadapi berbagai persoalan," ujar dia.
Selain membangun kesiapsiagaan, Farhan mengajak masyarakat lebih mengutamakan aksi nyata saat bencana terjadi. Memberikan pertolongan kepada sesama, jauh lebih penting daripada sekadar mendokumentasikan peristiwa.
Dia meyakini, budaya gotong royong akan membentuk masyarakat yang lebih tangguh atau memiliki daya lenting tinggi dalam menghadapi bencana. Oleh karena itu, keberadaan kampung siaga bencana dinilai menjadi sarana penting memperkuat sistem kesiapsiagaan yang terencana, terstruktur dan berkelanjutan.
Editor : Doni Ramdhani


