Kota Bandung Sinergi Program Kang Pisman, Buruan Sae DASHAT Strategi Tekan Stunting
Kota Bandung tengah menggalakkan sinergi tiga program yaitu Kang Pisman, Buruan Sae dan Dapur Dahsyat (DASHAT) menekan angka stunting.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kota Bandung tengah menggalakkan sinergi tiga program yaitu Kang Pisman, Buruan Sae dan Dapur Dahsyat (DASHAT) menekan angka stunting. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung, Anhar Hadian menyebut, program saling melengkapi dalam satu siklus berkelanjutan.
“Sampah organik dari DASHAT, kemudian dikirim kembali ke Kang Pisman sehingga siklus terus berputar,” kata Anhar Hadian, Rabu (15/4/2026).
Menurutnya, program tersebut sudah berjalan meski masih dalam tahap awal. Sejumlah kelurahan telah aktif melaksanakan Buruan Sae dengan pola yang lebih mandiri, di mana kebutuhan bahan pangan kini tidak lagi diminta melainkan dibeli. “Dengan cara ini, Buruan Sae dan Kang Pisman bisa lebih berdaya dan tidak bergantung pada bantuan semata,” ucapnya.
Anhar menyebut, distribusi program dilakukan sesuai kebutuhan tiap wilayah. DASHAT hanya ada satu di setiap kelurahan, sementara Kang Pisman dan Buruan Sae bisa lebih dari satu dengan koordinasi dilakukan lurah serta dukungan camat dan aparat wilayah.
“Ada kelurahan yang memiliki tiga atau empat Buruan Sae, semua diarahkan agar tetap terintegrasi dengan DASHAT,” ujar dia.
Meski potensi ekonomi belum dihitung secara detail dituturkannya, konsep harga tetap mengikuti pasar. Buruan Sae diberi waktu dua sampai tiga bulan menyiapkan bahan sesuai kebutuhan DASHAT agar tetap kompetitif. “Harapannya harga tetap kompetitif, meski di lapangan cenderung lebih murah,” ungkapnya.
Tujuan utama dari sinergi tersebut, dikatakannya adalah mencegah stunting. DASHAT menjadi ujung tombak dengan fokus pada balita yang bermasalah gizi, dan program ini sudah berjalan sejak 1 April dengan anggaran dari Dinas Kesehatan.
“Harapannya, tentu bisa memenuhi kebutuhan seluruh balita yang bermasalah gizi di Kota Bandung,” ujar dia.
Namun sambung dia, tantangan masih besar. Angka stunting di Kota Bandung relatif tinggi, ditambah masalah administrasi kependudukan yang membuat sebagian balita tidak bisa mengakses program UHC atau bantuan pemerintah. “Kesadaran masyarakat terhadap pola makan anak juga masih rendah,” jelasnya.
Anhar menjelaskan, data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka stunting di Kota Bandung masih 22,8 persen pada akhir 2024 hingga awal 2025. Di 2025 tidak ada survei sehingga data masih mengacu pada 2024, dan DPPKB menunggu pembaruan dari Kemenkes.
“Kami menunggu survei terbaru dari Kemenkes untuk melihat perkembangan terkini,” ujar dia.
Dia berharap, sinergi Kang Pisman, Buruan Sae dan DASHAT bisa terus berkelanjutan. program tersebut, diharapkan tidak hanya memberi nilai ekonomi. Tetapi juga berperan penting dalam menurunkan angka stunting. “Kami ingin program ini benar-benar berdampak bagi kesehatan masyarakat, khususnya balita,” tandasnya.
Editor : JakaPermana


