KPK Genjot Benteng Antikorupsi dalam Birokrasi, 6,7 Juta ASN Jadi Sasaran

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat strategi pencegahan korupsi, dengan menyasar jantung birokrasi nasional.

KPK Genjot Benteng Antikorupsi dalam Birokrasi, 6,7 Juta ASN Jadi Sasaran
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat strategi pencegahan korupsi, dengan menyasar jantung birokrasi nasional.

INILAHKORAN.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat strategi pencegahan korupsi, dengan menyasar jantung birokrasi nasional.

Melalui program E-Learning ASN Berintegritas, KPK bersama sejumlah lembaga pemerintah berupaya menanamkan budaya antikorupsi kepada lebih dari 6,7 juta Aparatur Sipil Negara (ASN) di seluruh Indonesia.

Peluncuran program yang digelar secara hybrid di Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta, Rabu (17/6/2026), menjadi langkah strategis dalam membangun sistem pencegahan korupsi yang tidak hanya bertumpu pada penindakan, tetapi juga pembentukan karakter aparatur negara.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi KPK dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi birokrasi (PANRB), Badan Kepegawaian Negara (BKN), serta Lembaga Administrasi Negara (LAN). Sinergi ini diarahkan untuk memperkuat integritas ASN, sebagai fondasi utama terciptanya tata kelola pemerintahan yang bersih dan akuntabel.

Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan, keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan tidak semata ditentukan oleh regulasi maupun teknologi yang digunakan. Menurutnya, integritas aparatur tetap menjadi faktor paling krusial dalam menjaga kepercayaan publik.

"Lebih dari 6,7 juta ASN saat ini menjadi wajah negara yang ditemui masyarakat setiap hari. ASN hadir di kantor pelayanan publik, ruang kelas, puskesmas dan rumah sakit, hingga di balik kebijakan dan pembangunan yang memastikan negara hadir sampai ke pelosok," ujar Setyo dalam keterangan resmi KPK yang diterima INILAHKORAN.ID, Kamis (18/6/2026).

Setyo menilai, kualitas pelayanan publik akan sangat bergantung pada sikap dan nilai yang dipegang aparatur dalam menjalankan tugasnya. Karena itu, pembangunan integritas harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

"Yang kita bangun bukan sekadar platform digital, tetapi gerakan nasional pembelajaran integritas ASN yang diharapkan mampu menjangkau jutaan aparatur negara secara luas dan konsisten," ucapnya.

Ia mengingatkan, praktik korupsi kerap berawal dari tindakan kecil yang dianggap lumrah dalam lingkungan kerja. Oleh sebab itu, upaya pencegahan harus menyentuh aspek perilaku dan kesadaran individu.

"Korupsi tidak selalu dimulai dari keputusan besar. Ia sering berawal dari kompromi-kompromi kecil yang dianggap biasa. Karena itu, pencegahan yang paling bermakna adalah yang mampu menyentuh kesadaran, membentuk karakter, dan mengubah perilaku," tegasnya.

Setyo juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian PANRB, LAN, dan BKN yang terlibat dalam pengembangan program tersebut.

"Keberhasilan program ini tidak mungkin dicapai oleh KPK sendiri. Saya berharap masukan atas program ini terus disampaikan sebagai bahan perbaikan ke depan," katanya.

Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana menjelaskan, digitalisasi pembelajaran menjadi salah satu cara efektif untuk memperluas jangkauan pendidikan integritas di lingkungan ASN.

"Program ini menjadi bagian dari gerakan nasional pembelajaran integritas ASN yang tidak hanya menanamkan nilai, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat budaya antikorupsi di birokrasi," ujarnya.

Sebelum diterapkan secara nasional, program tersebut telah diuji coba di 12 instansi pemerintah yang terdiri dari kementerian hingga pemerintah daerah. Melalui platform Learning Management System (LMS), lebih dari 56 ribu ASN telah mengikuti pembelajaran dan memberikan berbagai masukan untuk penyempurnaan program.

Hasil evaluasi menunjukkan, metode pembelajaran digital mampu menjangkau ASN secara lebih luas dengan fleksibilitas tinggi tanpa mengurangi kualitas materi yang diberikan.

Pada fase awal implementasi, E-Learning ASN Berintegritas akan diterapkan di 10 instansi pemerintah. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring upaya memperluas gerakan nasional penguatan integritas di lingkungan birokrasi.

Program ini menghadirkan enam modul interaktif yang dikembangkan melalui video pembelajaran, infografis, simulasi kasus, hingga permainan edukatif. Seluruh materi dirancang dalam konsep "Labirin Integritas", yang menggambarkan berbagai tantangan etika yang kerap dihadapi ASN dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Selain itu, KPK juga mengembangkan dashboard pemantauan bernama INDATA yang memungkinkan capaian peserta dan pelaksanaan program dipantau secara real time. Sistem tersebut direncanakan terintegrasi dengan Sistem Informasi ASN (SIASN) milik BKN guna memperkuat pengawasan dan evaluasi.

Menteri PANRB, Rini Widyantini menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Bahkan, pemerintah tengah menyiapkan surat edaran untuk mendorong seluruh ASN di instansi pusat maupun daerah mengikuti pembelajaran integritas tersebut.

"Peran pejabat pembina kepegawaian, termasuk sekretaris jenderal dan sekretaris daerah, menjadi krusial dalam memimpin implementasi serta memantau keikutsertaan ASN. Partisipasi pegawai nantinya akan dipantau secara berkala melalui sistem INDATA," ujarnya.

Rini menambahkan, partisipasi ASN dalam program ini nantinya juga akan menjadi salah satu indikator dalam pengembangan sumber daya manusia aparatur melalui skema 9-Box Talent Management.

"Saya minta komitmen bapak ibu sekalian untuk selalu mendorong para pegawainya," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana