Mahasiswa UPI Teliti Seren Taun Leuit Si Jimat di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, Ini Hasilnya

Da beberapa hasil penelitian yang dilakukan UPI usai meneliti Seren Taun Leuit Si Jimat di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar.

Mahasiswa UPI Teliti Seren Taun Leuit Si Jimat di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, Ini Hasilnya
Ada beberapa hasil yang usai mahasiswa UPI meneliti Seren Taun Leuit Si Jimat di Kampung Ciptagelar.

INILAHKORAN, Bandung - Tim Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) meneliti Seren Taun Leuit Si Jimat di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar.

Mereka berhasil menemukan Resiliensi dalam Mewujudkan Indonesia menjadi Poros Agraris Dunia dalam penelitian Seren Taun Leuit Si Jimat di Cipategelar tersebut. Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa UPI, yakni Gilang Arya Alghifari sebagai ketua pelaksana, Mia Desiany dan Trisha Fauziah Zahra sebagai anggota.

Penelitian tetang Seren Taun Leuit Si Jimat di Cipatagelar, dibimbing oleh Dosen UPI Muhammad Iqbal, dan berhasil meraih pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH).

Baca Juga: UPI Selenggarakan Lomba Simulasi Mengajar tingkat Nasional, Simak Ketentuanya

Para mahasiswa melihat, Petani merupakan aspek penting dalam perkembangan bangsa Indonesia. Karena pada dasarnya setiap individu memerlukan berbagai kebutuhan hidupnya, dalam hal ini Petani berperan penting bagi penyedia kebutuhan primer.

Di setiap bangsa di penjuru dunia, Petani telah membantu memenuhi kebutuhan primer berupa pangan bagi kebutuhan negaranya. Pada sisi lain, terlihat berbagai fenomena dalam masalah petani dan pertanian di Indonesia.

Ketua Tim Peneliti Gilang Arya Alghifari menjelaskan, secara umum tujuan penelitian ini untuk memberikan sumbangsih pemikiran mahasiswa terkait kajian tentang ethnoscience dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Agraris Dunia dengan mengacu kepada nilai kearifan lokal pada Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar yang ada pada salah satu kebudayaan Seren Taun Leuit Si Jimat.

Baca Juga: UPI Lakasanakan Wisuda Gelombang II Tahun 2022, Rektor: Mereka Bisa Belajar Sepanjang Hayat

Secara khusus, lanjut dia, tujuan penelitian ini untuk mengetahui makna filosofi dari Seren Taun Leuit Si Jimat yang ada pada Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar terkait dengan menjawab krisis Petani.

"Ini untuk mengetahui bentuk dari adaptasi krisis pangan dan petani di Kampung Kasepuhan Ciptagelar dengan berdasar kepada Seren Taun Leuit Si Jimat serta mengenalkan Seren Taun Leuit Si Jimat sebagai bentuk dari perwujudan Indonesia menjadi Poros Agraris Dunia," ujar Gilang Arya Alghifari, Jumat 8 Juli 2022.

Lebih lanjut, Gilang Arya Alghifari mengungkapkan, manfaat penelitian ini secara teoritis diharapkan untuk menambah wawasan atau pengetahuan masyarakat luas terkait bentuk dari filosofi Seren Taun Leuit Si Jimat dalam meresiliensi program pemerintah menjadikan Indonesia sebagai Poros Agraris Dunia.

Baca Juga: Usai Bertakziah ke Kang Emil, Iwan Bule Tinjau Langsung Lokasi TC Timnas U20 di Kampus UPI Bandung

"Secara praktis, penelitian ini diharapkan untuk memberikan jawaban atas krisis petani dengan berbasis kearifan lokal sunda yaitu mengacu pada Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar," jelasnya.

Dia menambahkan, selama 3 bulan melakukan penelitian, para mahasiswa dan dosen pembimbing, mendapatkan hasil dan temuan penelitian pada aspek ekonomi dan aspek pendidikan.

Pada aspek ekonomi masyarakat, pelaksanaan kearifan lokal Seren Taun Leuit Si Jimat dalam sistem pertanian di Indonesia merupakan suatu bentuk resiliensi dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Agraris Dunia, yang mana untuk mewujudkan hal tersebut Indonesia perlu mandiri secara pangan sehingga dapat mengurangi produksi impor beras.

Baca Juga: Tingkatkan Profesionalitas Dosen, UPI Selenggarakan Kegiatan Pekerti

"Terdapat beberapa filosofi dari kearifan lokal Seren Taun Leuit Si Jimat yang ada di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar yang dapat membantu Indonesia dalam mewujudkan hal tersebut, diantaranya Sistem kepemilikan tanah yang dikelola bersama, sehingga semua lahan pertanian terjaga dengan baik dan tidak terjadi pengalihfungsian lahan," papar Gilang Arya Alghifari.

Selain itu, Dosen Pembimbing Muhammad Iqbal menjelaskan, bahwa mahasiswa diarahkan untuk meneliti berbagai konseptualisasindari kearifan lokal masyarakat kampung adat (indiginous society).

"Sehingga, kemampuan daya tahan masyarakat dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi (economic security) menjadi mudah dan diterima karena dibangun dari tradisi yang ada," imbuh Muhammad Iqbal. *** (Okky Adiana)


Editor : inilahkoran