Mayoritas Mitra Ojol Pilih Skema Potongan 20% Asal Ada Promo dan Insentif

Industri transportasi online di Indonesia terus menunjukkan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Sejak pertama kali hadir pada 2010, sektor ini tumbuh pesat dan kini melibatkan sekitar 4 hingga 5 juta mitra pengemudi.

Mayoritas Mitra Ojol Pilih Skema Potongan 20% Asal Ada Promo dan Insentif

INILAHKORAN, Bandung - Industri transportasi online di Indonesia terus menunjukkan kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Sejak pertama kali hadir pada 2010, sektor ini tumbuh pesat dan kini melibatkan sekitar 4 hingga 5 juta mitra pengemudi.

Sebuah studi yang dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2023 mencatat bahwa sepanjang tahun 2022 industri ini menyumbang Rp382,62 triliun atau setara dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusi tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital di Tanah Air.

Di tengah perkembangan positif tersebut, isu potongan komisi yang diterapkan aplikator terhadap mitra pengemudi masih menjadi perdebatan publik, meski regulasinya telah diatur melalui Keputusan Menteri Perhubungan (KP) Nomor 1001 Tahun 2022. Untuk memahami lebih jauh persepsi para pengemudi,

Paramadina Public Policy Institute (PPPI) melakukan survei pada 23–26 September 2025. Survei ini melibatkan 1.623 mitra pengemudi Gojek aktif di wilayah Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Seluruh responden memiliki jam online minimal empat jam per hari, dan pengumpulan data dilakukan secara daring melalui jaringan internal Gojek dengan pengawasan ketat tim peneliti PPPI.

Hasil survei menunjukkan sebagian besar pengemudi menilai stabilitas pendapatan harian jauh lebih penting dibandingkan besaran pendapatan per order.

Sebanyak 81 persen responden menyatakan prioritas utama mereka adalah kestabilan penghasilan bersih setiap hari. Sementara itu, 77,8 persen pengemudi—yang sebagian besar sudah bergabung lebih dari lima tahun dan memiliki jam online lebih dari delapan jam per hari—mengaku memahami alasan aplikator menetapkan potongan komisi sebesar 20 persen.

Potongan tersebut, menurut mereka, bukan semata-mata mengurangi pendapatan, melainkan digunakan untuk mendukung promo pelanggan, insentif bagi mitra, biaya pemeliharaan aplikasi, serta memberikan manfaat tambahan lain seperti diskon perawatan kendaraan, sembako, hingga paket data.

Pemahaman terhadap pentingnya promo juga menjadi sorotan dalam survei ini. Sebanyak 72,9 persen pengemudi menilai promo pelanggan sangat vital bagi keberlanjutan pendapatan mereka, terutama bagi pengemudi yang bekerja dengan jam online tinggi.

Dari temuan ini, mayoritas responden, yaitu 60,8 persen, menyatakan lebih memilih skema potongan komisi 20 persen apabila diikuti dengan promo, insentif, dan manfaat tambahan. Sebaliknya, hanya 39,2 persen yang memilih potongan komisi 10 persen tanpa fasilitas tambahan.

Managing Director PPPI, Ahmad Khoirul Umam, menilai bahwa hasil survei ini memberikan perspektif baru dalam perdebatan publik mengenai potongan komisi. Menurutnya, kontroversi terkait potongan 20 persen dan 10 persen dapat lebih mudah diurai setelah memahami aspirasi pengemudi.

“Secara umum, pengemudi ternyata tidak semata-mata menolak potongan komisi 20 persen. Justru mayoritas mereka memahami bahwa komisi itu akan kembali lagi kepada mereka dalam bentuk promo pelanggan, insentif, maupun manfaat tambahan lainnya. Yang pada akhirnya penurunan komisi 20 persen akan berpengaruh pada naik turunnya pendapatan harian mitra pengemudi, dan mereka memahami hal itu,” ujar Khoirul di Jakarta, Rabu (1/10/2025).

Peneliti PPPI, Annisa Rizkiayu Leofianti, menambahkan bahwa industri transportasi online kini menjadi katalis penting dalam pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Menurutnya, ekosistem industri harus dikelola dengan cara yang memastikan keberlanjutan bisnis sekaligus memberikan keadilan bagi pengemudi.

“Mayoritas mitra pengemudi, terutama yang sudah lama bergabung dan memiliki jam online tinggi, sudah memahami fungsi dan peruntukan potongan komisi tersebut. Namun masih ada sekitar 22,2 persen yang mengaku tidak tahu,” ungkap Annisa.

Bagi tim peneliti PPPI, hasil survei ini bukan hanya sekadar data statistik, tetapi juga cerminan kebutuhan dan harapan para pengemudi. Stabilitas pendapatan, efektivitas promo, dan transparansi skema komisi dianggap sebagai aspek penting yang perlu menjadi perhatian pembuat kebijakan maupun aplikator.

Survei ini dipimpin oleh Head Advisor PPPI, Wijayanto Samirin, bersama Ahmad Khoirul Umam serta para peneliti Annisa Rizkiayu Leofianti, Fathie Hamadi, dan Alia Rahmatulummah.

Tim menekankan pentingnya arah kebijakan yang seimbang agar industri transportasi online tetap tumbuh pesat dan memberi kontribusi besar pada perekonomian nasional, sekaligus berfungsi sebagai instrumen kesejahteraan yang adil bagi pengemudi, aplikator, dan konsumen.


Editor : Ahmad Sayuti